SUMATERA BARAT — Direktur Utama GMF AeroAsia Andi Fahrurrozi mengungkapkan pekerjaan perawatan untuk pesawat-pesawat baru tersebut akan dibagi dengan perusahaan lain sesuai kapabilitas masing-masing. Skema ini merupakan bagian dari kewajiban offset yang melekat pada pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) oleh pemerintah.
"Selain C-130 (Hercules ini), kami dapat offset untuk A400M, maintenance-nya untuk Falcon dan untuk Rafale. Nanti bagi-bagi. Jadi offset itu misalnya Rafale, tidak di satu perusahaan. Misalnya GMF dapat avioniknya, PTDI dapat engine-nya, kami dapat juga structure-nya," tuturnya dalam acara penyerahan pesawat C-130H A-1319 di Hanggar 4 GMF, Tangerang, Rabu (19/8).
Saat ini, lini bisnis perawatan pesawat militer ditangani oleh Strategic Business Unit (SBU) Defense yang telah berdiri sejak 2021. Andi menyebut unit usaha ini telah menyumbang sekitar 10 persen dari total pendapatan perusahaan pada tahun berjalan.
"Tahun ini revenue dari defense itu 10 persen dari total revenue GMF. Target kita 10 persen, 5 tahun ke depan target kita 20 persen," ucap Andi. Target pertumbuhan dua kali lipat ini menunjukkan ambisi perseroan untuk memperkuat posisinya di segmen pertahanan, seiring dengan modernisasi alutsista TNI yang tengah berjalan.
Selain proyek pesawat baru, GMF AeroAsia tengah mengerjakan delapan proyek perawatan pesawat TNI dari Kemenhan dengan nilai total mencapai 80 juta dolar AS atau sekitar Rp1,43 triliun (kurs Rp17.840 per dolar AS). Salah satu proyek yang menjadi andalan adalah modernisasi pesawat Hercules C-130 A-1319.
Pekerjaan pada pesawat A-1319 mencakup tiga program utama: Center Wing Box Replacement (CWBR), Avionic Upgrade Program (AUP), dan Structural Integrity Program (SIP). Modernisasi ini dirancang untuk menjaga integritas struktur pesawat, memperbarui sistem avionik, serta meningkatkan kesiapan dan keandalan operasional.
Pengerjaan pesawat A-1319 berlangsung selama tiga tahun. Namun, Andi memastikan durasi pengerjaan untuk pesawat berikutnya akan jauh lebih singkat. GMF menargetkan pesawat ketiga dan keempat dapat dirampungkan pada tahun ini.
"Tapi untuk pesawat berikutnya, prosesnya lebih cepat. Pesawat berikutnya 18 bulan. Jadi nanti pesawat nomor 3 dan 4 tahun ini juga selesai, Oktober dan Desember," tutur Andi.
Portofolio proyek yang mengalir ini membuka peluang bagi GMF AeroAsia untuk mengembangkan kapabilitasnya menjadi pusat layanan Hercules atau Hercules Service Center. Pengembangan ini akan dilakukan dengan dukungan sinergi bersama Lockheed Martin, produsen asli pesawat C-130, untuk menangani lebih banyak armada Hercules di masa mendatang.
Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat kemandirian industri pertahanan dalam negeri. Dengan kapabilitas yang diakui pabrikan, GMF berpotensi menarik perawatan pesawat militer dari negara-negara kawasan yang juga mengoperasikan tipe pesawat serupa.