Sebanyak 23 kolam tambak ikan budidaya di Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman, Sumatera Barat, masih tertutup material lumpur akibat banjir bandang akhir 2025. Pemerintah Kota (Pemkot) Pariaman kini mengupayakan pembukaan tambak tersebut dengan meminta bantuan alat berat dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Tim KKP disebut telah melakukan survei ke lokasi pada pekan lalu.
PARIAMAN — Upaya pemulihan sektor perikanan budidaya di Kota Pariaman pascabanjir bandang masih menemui kendala. Puluhan kolam tambak ikan di daerah itu belum bisa beroperasi maksimal lantaran tertimbun material lumpur yang terbawa arus banjir, sementara upaya pembersihan secara swadaya oleh pembudidaya berjalan lambat.
Kepala Bidang Perikanan dan Kelautan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kota Pariaman, Zainal, mengungkapkan bahwa dari total 23 kolam dengan luas sekitar satu hektare di Pariaman Selatan, baru dua tambak yang berhasil dibuka kembali. Pembudidaya setempat hanya mengandalkan alat seadanya untuk membersihkan lumpur.
"Kalau bisa dibuka dengan alat berat, karena itu kami meminta KKP membantu Pariaman dari biaya dan ekskavator mini," kata Zainal di Pariaman, Jumat.
Pemkot Pariaman mengusulkan agar proses pembukaan kolam tambak dilakukan dengan sistem swakelola. Dengan begitu, pekerjaan pembersihan bisa melibatkan langsung para pembudidaya yang tergabung dalam kelompok, sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan di tengah masa pemulihan.
Selain rehabilitasi tambak, pemerintah daerah juga meminta bantuan berupa bibit ikan untuk menghidupkan kembali usaha perikanan. Menurut Zainal, KKP siap memberikan bantuan bibit, dan Pariaman menjamin ketersediaannya tanpa perlu didatangkan dari luar daerah.
Bencana hidrometeorologi yang melanda akhir tahun lalu tercatat berdampak pada 19 pelaku usaha perikanan budidaya yang tersebar di 15 desa dan kelurahan di Pariaman. Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan Kota Pariaman, Marlina Sepa, menyebut sebagian besar sarana dan prasarana budidaya mengalami kerusakan parah.
Komoditas ikan yang siap panen ikut hanyut terbawa banjir. Total kerugian yang ditaksir dari sektor perikanan mencapai hampir Rp1 miliar.
Kondisi ini diperparah posisi geografis Pariaman yang berada di daerah hilir. Kota tersebut menjadi muara aliran banjir dari wilayah hulu, sehingga dampak material lumpur yang terbawa jauh lebih besar dibandingkan daerah lain.
Meski demikian, sejumlah tambak ikan budidaya lainnya dilaporkan telah beroperasi kembali. Perbaikan dan operasional tambak-tambak tersebut dibiayai secara mandiri oleh pembudidaya yang bersangkutan tanpa menunggu bantuan pemerintah.