PADANG — Kualitas udara di sejumlah daerah perbatasan Sumatera Barat (Sumbar) mulai terganggu akibat kabut asap kiriman dari provinsi tetangga. Kepala DLH Sumbar Tasliatul Fuaddi menyebut enam kabupaten/kota terdampak, yakni Pesisir Selatan, Dharmasraya, Sijunjung, Lima Puluh Kota, serta sebagian wilayah Tanah Datar dan Solok.
Berdasarkan data terakhir, jarak pandang di wilayah-wilayah tersebut turun dibandingkan hari normal. Meski begitu, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per 23 Agustus masih tercatat dalam kategori baik hingga sedang.
Tasliatul mengimbau masyarakat di daerah terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan mengenakan masker saat beraktivitas. Imbauan ini disampaikan sambil menunggu upaya pemadaman yang dilakukan tim gabungan pemerintah.
"Kenakan masker dan kurangi aktivitas luar ruangan demi menjaga kesehatan, kita menunggu upaya pemadaman yang tengah dilakukan oleh tim gabungan pemerintah sampai saat ini," imbaunya, Selasa (25/8).
Pemprov Sumbar memastikan kabut asap yang masuk bukan berasal dari wilayahnya sendiri. Hal ini dibuktikan dengan penurunan signifikan jumlah titik api di Sumbar pada periode 14-23 Agustus.
Pada 1-13 Agustus, tercatat 232 titik api di Sumbar. Angka itu berkurang lebih dari lima puluh persen menjadi 103 titik pada periode 14-23 Agustus.
"Titik api di wilayah Sumbar mengalami penurunan, namun kabut asap masih terjadi di daerah-daerah yang berbatasan dengan provinsi tetangga," jelas Tasliatul.
Berdasarkan data Sipongi Gakkum Kehutanan periode 14-23 Agustus, sumber asap yang menyelimuti Sumbar berasal dari tiga provinsi dengan titik api terbanyak. Sumatera Selatan memuncaki daftar dengan 4.975 titik api.
Sementara itu, dua provinsi lain di sekitar Sumbar tercatat lebih rendah. Bengkulu memiliki 154 titik api dan Sumatera Utara 214 titik api.