SUMATERA BARAT — Kecelakaan yang melibatkan tiga kendaraan ini terjadi di kilometer 147 jalur arah utara, ruas Sanyi. Korban tewas adalah pengemudi Volkswagen yang terjepit di bawah van dan seorang penumpang asal Filipina berusia 62 tahun yang sedang dalam perjalanan menuju Bandara Internasional Taiwan Taoyuan. Empat orang lainnya mengalami luka-luka.
Kronologi kejadian menunjukkan bagaimana keputusan darurat di jalan tol bisa berubah menjadi tragedi. Van Volkswagen yang dikemudikan korban menabrak bagian belakang Tesla di lajur satu. Tabrakan awal ini relatif ringan, memicu kedua pengemudi untuk keluar dan berdiri di antara kedua mobil untuk membahas insiden. Lokasi tersebut tidak memiliki bahu jalan yang lebar, memaksa mereka bertahan di lajur aktif.
Kurang dari beberapa menit setelah tabrakan pertama, sebuah sedan yang dikemudikan wanita berusia 51 tahun melaju dari belakang dengan kecepatan tinggi. Pengemudi tidak sempat menghindar karena posisi kendaraan yang sudah berhenti total di tengah jalan. Benturan keras ini menghantam van Volkswagen, mengakibatkan pengemudinya terjepit di bawah kendaraan dan penumpang di kursi belakang ikut menjadi korban jiwa.
Polisi yang dikutip Focus Taiwan masih melakukan penyelidikan untuk menentukan penyebab pasti kecelakaan. Namun, video yang beredar di media sosial menunjukkan pola yang jelas: bahaya fatal dari berhenti di lajur cepat tanpa perlindungan. Insiden ini menjadi pengingat keras bagi pengguna jalan tol di Indonesia, di mana bahu jalan sering kali digunakan sebagai jalur darurat namun tidak selalu tersedia di titik tertentu.
Kecelakaan di Taiwan ini menyoroti protokol keselamatan yang sering diabaikan pengemudi. Setelah tabrakan kecil, insting pertama adalah turun dan memeriksa kerusakan. Padahal, risiko tertabrak kendaraan lain yang melaju kencang jauh lebih besar daripada bahaya tabrakan awal itu sendiri.
Rekomendasi standar keselamatan menyarankan untuk segera menepikan kendaraan ke bahu jalan jika memungkinkan. Jika tidak ada bahu jalan, seluruh penumpang wajib keluar dan menjauh ke area paling aman, biasanya di belakang pagar pembatas, bukan berdiri di antara mobil. Menyalakan lampu hazard saja tidak cukup untuk menghentikan kendaraan lain yang melaju dengan kecepatan 100 km/jam atau lebih.
Pengemudi sedan yang menabrak dari belakang juga menjadi sorotan. Dalam rekaman, tidak ada jejak pengereman yang signifikan sebelum benturan. Hal ini mengindikasikan kurangnya kewaspadaan terhadap kondisi lalu lintas di depannya, atau kemungkinan terhalang pandangan oleh kendaraan lain.
Kejadian ini juga memicu diskusi mengenai perilaku pengemudi kendaraan listrik (EV) di jalan tol. Meski bukan penyebab langsung, Tesla yang terlibat dalam kecelakaan pertama menunjukkan bahwa teknologi canggih tidak menggantikan penilaian situasional pengemudi. Baik pengemudi Tesla maupun Volkswagen sama-sama membuat keputusan yang berisiko tinggi dengan tetap berada di lajur satu.
Otoritas jalan tol Taiwan diharapkan mengevaluasi ulang desain ruas jalan di kilometer 147 tersebut. Minimnya bahu jalan di lokasi kejadian menjadi faktor kontributor yang signifikan. Untuk konteks Indonesia, insiden ini relevan dengan ruas-ruas tol padat seperti Jagorawi atau Cipularang, di mana kecelakaan beruntun sering terjadi akibat kendaraan berhenti mendadak di lajur cepat.
Korban jiwa dalam insiden ini seharusnya bisa dicegah jika protokol keselamatan dasar diikuti. Tabrakan awal hanya menyebabkan kerusakan ringan pada kendaraan, tetapi keputusan untuk berhenti dan berdiskusi di tengah jalan tol yang aktif mengubah insiden kecil menjadi tragedi maut.