SUMATERA BARAT — Dalam eksperimennya, Zerotistic berhasil mendaftarkan mesin Linux biasa sebagai node tepercaya di jaringan Find My dan menggunakannya untuk menerima data lokasi langsung dari perangkat Apple lain. Yang menarik, seluruh proses ini hanya memakan waktu kurang dari seminggu dan tidak memerlukan jailbreak, kunci bocor, atau bahkan perangkat Mac untuk menjalankannya.
Penting untuk dicatat bahwa temuan ini bukanlah celah yang memungkinkan pengintaian massal terhadap pengguna Apple secara acak. Metode yang digunakan tetap membutuhkan persetujuan dari pemilik perangkat yang berbagi lokasi. Artinya, peneliti tidak bisa diam-diam melacak orang asing tanpa sepengetahuan mereka.
Meski begitu, apa yang dilakukan Zerotistic membuka mata tentang bagaimana Apple menjaga fitur Find My tetap eksklusif. Ternyata, batasan itu lebih banyak bergantung pada protokol yang tidak terdokumentasi dengan baik daripada kunci kriptografi yang mustahil ditembus.
Untuk bisa masuk ke jaringan Find My, perangkat Linux tersebut harus bisa "berbicara" dalam bahasa privat yang digunakan Apple. Ini melibatkan beberapa tahapan teknis yang cukup rumit:
Setelah semua sertifikat diperoleh, peneliti mengirimkan permintaan SubscribeAndFetch yang berisi kunci lokasi terenkripsi dari temannya. Dari situlah data lokasi mulai mengalir ke mesin Linux tersebut.
Yang membuat temuan ini semakin menarik adalah peralatan yang digunakan. Zerotistic tidak memakai perangkat keras khusus atau alat peretasan canggih. Sebaliknya, ia mengandalkan klien open-source dan daemon hasil decompile — proses membongkar aplikasi untuk melihat kode di baliknya.
Metode trial-and-error menjadi kunci utama. Setiap percobaan yang gagal memberikan petunjuk baru tentang bagaimana Apple memvalidasi perangkat yang masuk ke ekosistemnya. Setelah beberapa kali iterasi, akhirnya mesin Linux tersebut diperlakukan seperti "anggota keluarga" oleh jaringan Find My.
Hingga berita ini ditulis, Apple belum memberikan tanggapan resmi atas pertanyaan media mengenai temuan ini. Perusahaan yang berbasis di Cupertino itu juga belum mengumumkan apakah akan menambal celah yang dipakai dalam eksperimen tersebut dalam waktu dekat.
Bagi pengguna Apple di Indonesia, temuan ini sebenarnya tidak perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan. Data lokasi tetap aman selama Anda tidak berbagi lokasi dengan orang yang tidak dikenal. Namun, eksperimen ini menunjukkan bahwa batas ekosistem tertutup Apple bukanlah jaminan keamanan mutlak — hanya masalah waktu dan usaha bagi mereka yang ingin menembusnya.
Yang lebih menarik adalah implikasi jangka panjangnya. Jika metode ini disempurnakan, bukan tidak mungkin akan muncul aplikasi pihak ketiga yang memungkinkan perangkat non-Apple membaca data Find My. Hal ini bisa mengubah cara orang berbagi lokasi lintas ekosistem, meski Apple kemungkinan besar akan menutup celah ini terlebih dahulu.