JAKARTA — Irman Gusman menilai mobilitas sumber daya manusia dari Sumatera Barat tidak semestinya berujung pada hilangnya talenta dari daerah asal. Justru sebaliknya, ilmu, pengalaman, jejaring, hingga investasi yang diperoleh di perantauan harus terus mengalir kembali ke kampung halaman.
Gagasan itu ia sampaikan saat menjadi pembicara kunci dalam seminar bertajuk "Tokoh Minangkabau yang Mengubah Indonesia". Acara yang digelar di Balai Kota DKI Jakarta itu turut dihadiri Asisten Pemerintahan Sekda DKI Jakarta Sigit Wiajatmoko mewakili Gubernur DKI, serta Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah.
Menurut Irman, konsep brain circulation sebenarnya sudah mengakar kuat dalam falsafah Minangkabau. Ia mengutip pepatah: "Karatau madang di hulu, Babuah babungo balun; Marantau bujang dahulu, Di rumah baguno balun."
Pepatah itu menggambarkan merantau sebagai proses pendewasaan. Anak muda didorong keluar dari lingkungan asalnya untuk belajar, mencari pengalaman, dan mengembangkan kemampuan agar kelak lebih bermanfaat bagi keluarga serta nagari.
"Bagi tradisi Minangkabau, brain circulation terasa paling dekat: orang boleh bergerak ke mana saja, tetapi hubungan, pengetahuan, dan kontribusinya tetap berputar kembali untuk nagari," ujar Irman.
Irman yang juga Ketua Dewan Pengawas DPP IKM ini menilai Sumatera Barat memiliki modal besar melalui jaringan perantau yang tersebar di berbagai daerah dan negara. Para perantau di Jakarta, Singapura, Melbourne, hingga New York bisa terus berkontribusi lewat ilmu, investasi, dan kepedulian terhadap kampung halaman.
"Pergi untuk tumbuh, terhubung untuk berbagi, dan berkontribusi kembali," katanya menegaskan.
Irman menekankan bahwa kembali ke ranah tidak selalu berarti pulang dan menetap secara permanen. Seorang dokter di Melbourne dapat membimbing tenaga kesehatan di kampung, engineer di Singapura bisa membuka akses teknologi bagi mahasiswa Sumbar, dan pengusaha di Jakarta dapat membantu UMKM nagari memperluas pasar.
Ia menilai Rangkayo Minang Indonesia dapat menjadi ruang temu antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi perantau, dan nagari. Dengan begitu, potensi diaspora Minangkabau bisa disalurkan secara lebih terarah dan berdampak bagi kemajuan Sumatera Barat.
Dalam kesempatan itu, Irman juga mengingatkan bahwa tradisi merantau merupakan salah satu faktor yang membentuk karakter kepemimpinan tokoh-tokoh Minangkabau dalam perjalanan Indonesia. Tradisi ini perlu diwariskan kepada generasi muda dalam bentuk kemandirian, kemampuan beradaptasi, keberanian berpikir, dan kemauan membangun jejaring.
Seminar Nasional RMI sendiri diarahkan untuk menggali nilai kepemimpinan dari tokoh-tokoh Minangkabau sekaligus menghubungkannya dengan kebutuhan generasi masa kini dan masa depan.