MENTAWAI — Kolaborasi antara TNI Angkatan Darat dan akademisi dalam program Karya Bakti Untuk Rakyat Tahun 2026 di Kabupaten Kepulauan Mentawai berhasil membuka akses transportasi dan pemenuhan air bersih bagi warga yang selama ini terisolasi. Tim peneliti dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung bersama perwira siswa Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SeskoAD) melakukan kajian mendalam. Kajian ini memastikan pembangunan tepat sasaran dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Ketua tim peneliti UPI, Prof. Dr. rer. nat. Nandi, S.Pd., M.T., M.Sc., menegaskan bahwa keterlibatan akademisi membuat pengukuran dampak pembangunan lebih ilmiah. "Kami tidak hanya melihat hasil fisik, tetapi juga perubahan sosial dan ekonomi yang dirasakan masyarakat," ujarnya dalam keterangan yang diterima redaksi, Selasa (18/2/2026).
Dari 6 unit jembatan yang dibangun, tiga di antaranya telah ditinjau langsung oleh tim peneliti. Dua jembatan beton di Dusun Katiet dan Dusun Gobik, Desa Bosua, serta satu jembatan gantung di Desa Beriulou, Kecamatan Sipora Selatan. Keberadaan jembatan ini strategis karena membuka akses antar dusun yang sebelumnya terisolasi secara geografis.
Komandan Kodim 0319/Mentawai sekaligus Dansatgas Karya Bakti, Letkol Inf Bambang Budi Hartanto, menegaskan bahwa infrastruktur ini adalah kebutuhan vital masyarakat. "Jembatan ini bukan sekadar penghubung dua wilayah, melainkan jembatan kemajuan ekonomi dan kemudahan akses warga untuk keperluan pendidikan, kesehatan, maupun perdagangan hasil bumi," katanya.
Salah seorang warga Desa Bosua mengaku sangat terbantu dengan hadirnya jembatan tersebut. "Sekarang kami tidak perlu memutar jalan jauh. Anak-anak sekolah juga lebih aman," ungkapnya.
Program ini juga membangun 4 unit sumur bor di titik-titik strategis seperti Yayasan Santo Yosef Dusun Sioban, SDN 27 Beriulou, Kantor Desa Bosua, dan pemukiman warga di Nemnem Leleu Utara. Di lokasi Sumur Bor Desa Beriulou, tim peneliti tampak meninjau langsung fasilitas yang telah selesai dibangun. Para murid SD pun terlihat mencoba mencuci tangan dan membasuh wajah menggunakan air yang mengalir dari sumur bor.
Seorang penerima manfaat sumur bor di Yayasan Santo Yosef menyampaikan rasa syukurnya. "Saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden dan seluruh jajarannya khususnya TNI AD atas bantuan yang diberikan. Dengan adanya sumur bor, kami merasa terbantu dalam memenuhi kebutuhan air yang ada di lingkungan gereja," tuturnya.
Selama 50 hari bertugas, TNI AD merealisasikan sejumlah pembangunan fisik dan nonfisik di Kepulauan Mentawai:
Anggota tim peneliti UPI, Riko Arrasyid, M.Pd., menyoroti kuatnya modal sosial dalam pelaksanaan program ini. "Kami melihat semangat gotong royong yang kuat antara TNI dan masyarakat. Ini adalah modal sosial yang sangat penting untuk keberlanjutan program ke depan," tambahnya.
Bupati Kepulauan Mentawai, Rinto Wardana, menyambut baik program ini dan mengapresiasi kontribusi TNI AD. Kolaborasi TNI, akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat ini dinilai menjadi contoh nyata pembangunan yang tidak hanya fisik, tetapi juga berbasis riset dan berkelanjutan.