19 Titik Panas Masih Terpantau di Sumatera Barat, Gubernur Mahyeldi Imbau Warga Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Penulis: Ridwan Azhari  •  Jumat, 04 September 2026 | 14:47:01 WIB
Petugas memantau perkembangan titik panas di wilayah Sumatera Barat melalui data satelit di Padang, Jumat (4/9/2026).

PADANG — Sebanyak 19 titik panas atau hotspot masih terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini mendorong Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengambil langkah antisipasi untuk meminimalisir dampak kabut asap terhadap kesehatan warga.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah menegaskan persoalan karhutla tidak bisa ditangani sendiri oleh satu daerah. Koordinasi dengan provinsi tetangga dinilai penting karena titik panas dalam jumlah besar juga terpantau di wilayah lain Pulau Sumatera.

19 Titik Panas Masih Mendominasi Wilayah Sumbar

Kepala DLH Sumatera Barat Kuartini Deti Putri mengungkapkan, titik panas tersebut terpantau sejak 1 September hingga 3 September 2026 pukul 14.00 WIB. Meski demikian, ia tidak merinci lokasi persis masing-masing titik api tersebut.

Keberadaan hotspot ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Pasalnya, kabut asap yang ditimbulkan berpotensi menurunkan kualitas udara dan mengganggu kesehatan masyarakat, terutama di daerah yang dekat dengan lokasi kebakaran.

Sinergi Lintas Provinsi Jadi Kunci Penanganan Karhutla

Mahyeldi menekankan bahwa langkah penanganan karhutla harus dilakukan secara terpadu. Menurutnya, koordinasi antar pemerintah provinsi di Pulau Sumatera perlu diperkuat untuk menekan potensi meluasnya dampak kebakaran.

“Kita berharap koordinasi dan sinergi antar seluruh pihak terkait terus diperkuat dalam penanganan karhutla. Ini penting agar dampaknya terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat dapat kita minimalisir,” ujar Mahyeldi di Padang, Jumat (4/9/2026).

Langkah ini dinilai krusial mengingat asap kebakaran tidak mengenal batas administrasi wilayah. Jika satu daerah gagal mengendalikan api, wilayah tetangga pun berpotensi ikut terkena imbas kabut asap.

Warga Diminta Pakai Masker dan Hentikan Pembakaran Lahan

Gubernur juga mengeluarkan imbauan khusus kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan saat kualitas udara menurun. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi, terutama bagi kelompok yang rentan terhadap gangguan pernapasan.

“Untuk masyarakat, kita imbau mengurangi aktivitas di luar ruangan. Kalau memang harus beraktivitas di luar, gunakan masker sebagai perlindungan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan kelompok masyarakat yang rentan terhadap gangguan pernapasan,” katanya.

Selain itu, Mahyeldi mengingatkan warga untuk tidak melakukan pembakaran terbuka, baik untuk membakar sampah maupun lahan. Kebiasaan tersebut hanya akan menambah sumber asap baru dan berpotensi memperburuk kondisi udara yang sudah tercemar.

“Kita mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah dan tidak melakukan pembakaran lahan. Mari bersama-sama menjaga lingkungan dan kualitas udara Sumatera Barat agar tetap sehat dan nyaman,” tegasnya.

Pemerintah provinsi berharap kesadaran masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar dapat meningkat, sehingga risiko karhutla berulang di masa mendatang bisa ditekan.

Reporter: Ridwan Azhari
Sumber: topsumbar.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top