SUMATERA BARAT — XLSmart mengumpulkan ratusan ton sampah elektronik dari proses integrasi jaringan setelah merger, dengan sekitar setengahnya telah disalurkan ke pengelola eWaste berskala besar. Operator telekomunikasi ini menyebut siklus penggantian teknologi di sektornya jauh lebih cepat dibanding industri lain. Langkah ini merespons kewajiban pengelolaan limbah B3 dan pemenuhan standar ESG yang diatur pemerintah.
Direktur & Chief Regulatory Officer XLSmart Merza Fachys mengungkapkan bahwa operator telekomunikasi termasuk penghasil eWaste terbesar. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan dengan media di Halim, Jakarta Timur, Senin (14/9/2026).
"Teknologi ini cepat berganti alat, boleh dikatakan, lebih sering dibanding sektor-sektor lain. Oleh sebab itu, kita merasa perlu, merasa sangat urgent, tentang pengelolaan eWaste," ujarnya.
Merza menambahkan, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi memiliki siklus penggantian perangkat yang lebih pendek. Kondisi itu membuat volume sampah elektronik menumpuk lebih cepat dibanding sektor lain.
Setelah merger, XLSmart melakukan integrasi jaringan di sejumlah wilayah. Dari studi lapangan, beberapa teknologi dinilai sudah perlu diremajakan. Perangkat yang tidak lagi terpakai pun menumpuk.
"Kemarin itu kita kumpulkan, kira-kira besarnya atau barangnya itu bisa sampai ratusan ton dari network yang kita integrasikan. Karena ada yang nggak terpakai. Yang nggak terpakai ini kalau kita kumpulin ratusan ton, mau simpan di mana? Bantar gebang sudah tidak terima," terang Merza.
Jenis eWaste yang dihasilkan bukan barang berukuran kecil. Mulai dari antena yang panjangnya bermeter-meter hingga sisa-sisa bangunan Base Transceiver Station (BTS) ikut masuk dalam kategori limbah ini.
XLSmart tidak menangani sendiri limbah elektronik tersebut. Perusahaan menggandeng sejumlah pengelola eWaste berskala besar untuk memproses material yang sudah tidak terpakai.
Langkah ini juga menyesuaikan dengan aturan pemerintah soal pemenuhan Environmental, Social, and Governance (ESG). Ada sejumlah ketentuan yang harus dipatuhi perusahaan dalam mengelola sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
"Kita harus ikuti itu. Panduan-panduannya mulai dari menyimpan, mentransportasikan, pengolahan, sampai akhirnya terjadi penguraian," terang Merza.
Merza tidak menyebut angka tonase pasti eWaste yang telah dikelola XLSmart. Ia hanya menyatakan persentasenya sudah cukup besar.
"Sudah banyak sih, kalau ngomong persen, ya. Kita tahun kemarin, saya lupa angka tonnya, tapi sudah hampir setengahnya telah tersalurkan," pungkasnya.
Pengelolaan eWaste menjadi persoalan yang makin mendesak bagi operator telekomunikasi di Indonesia. Peremajaan jaringan 4G ke 5G dan konsolidasi pasca-merger diproyeksikan terus menghasilkan perangkat bekas dalam jumlah besar. Tanpa kanal pengelolaan yang memadai, limbah B3 ini berpotensi mencemari lingkungan dan melanggar ketentuan regulasi.