SUMATERA BARAT — Ferrari memastikan tidak akan pernah memproduksi mobil otonom Level 3 ke atas, meski sudah masuk era kendaraan listrik lewat peluncuran Ferrari Luce. CEO Benedetto Vigna menegaskan pengalaman mengemudi adalah alasan orang membeli Ferrari, bukan sekadar transportasi dari titik A ke B.
Keputusan Ferrari menolak kendaraan otonom disampaikan langsung oleh CEO Benedetto Vigna dalam wawancara dengan Drive Australia. Pabrikan asal Maranello itu juga menegaskan tidak berencana menghentikan produksi mesin pembakaran internal.
Vigna menjelaskan bahwa Ferrari tidak tertarik mengembangkan kendaraan otonom Level 3 atau lebih tinggi. Langkah ini berlawanan dengan arah beberapa produsen lain yang justru berlomba menghadirkan fitur mengemudi sendiri.
Peluncuran Ferrari Luce menandai langkah merek tersebut memasuki era kendaraan listrik sepenuhnya. Meski begitu, filosofi berkendara Ferrari tidak berubah meski modelnya beralih ke tenaga baterai.
Vigna menegaskan pengalaman berkendara adalah elemen paling krusial dari sebuah Ferrari. Hal ini tidak akan berubah meskipun perusahaan mulai menawarkan model listrik.
"Kami tidak akan memproduksi mobil otonom sepenuhnya. Kami ingin pengemudi menikmati sensasi mengemudi sendiri, alih-alih bergantung pada cip komputer," ujarnya.
Dalam standar otonomi kendaraan, Level 3 berarti sistem komputer mengambil alih tugas mengemudi dalam kondisi tertentu. Pengemudi hanya perlu siap mengambil alih saat sistem meminta.
Vigna menyebut Level 3 ke atas sebagai batas yang tidak akan dilewati Ferrari. Ia ingin pengemudi tetap memegang kendali penuh atas kendaraan, bukan menyerahkan tugas tersebut kepada sistem komputer.
"Saat saya berbicara tentang mobil otonom, yang saya maksud adalah Level 3 ke atas. Kami menginginkan adanya setir dan pengemudi yang mengendalikan kendaraan. Jika tidak, mengapa ada orang yang mau membeli Ferrari?" katanya.
Pernyataan Vigna menempatkan Ferrari berseberangan dengan tren industri yang semakin gencar mengembangkan fitur otonom. Sejumlah produsen global berlomba menghadirkan sistem mengemudi sendiri sebagai nilai jual utama.
Bagi Ferrari, daya tarik utama bukan efisiensi perjalanan atau kenyamanan lepas setir. Sensasi mengemudi sendiri menjadi pembeda yang membuat pelanggan mau membayar puluhan miliar rupiah untuk satu unit.
Strategi ini juga menjelaskan mengapa Ferrari tetap mempertahankan mesin pembakaran internal di sebagian lini produknya. Transisi ke listrik lewat Ferrari Luce tidak berarti meninggalkan karakter berkendara yang sudah menjadi identitas merek.
Ferrari mengambil posisi jelas: mobil otonom bukan arah mereka. Vigna menempatkan pengalaman mengemudi sebagai alasan eksistensi Ferrari, bukan sekadar alat transportasi.
Bagi calon pembeli yang mencari supercar dengan keterlibatan pengemudi penuh, sikap ini justru memperkuat daya tarik. Sebaliknya, yang mengharapkan kemudahan fitur otonom di mobil mewah harus melihat merek lain.