SUMATERA BARAT — Otoritas Jasa Keuangan meminta perbankan mewaspadai dampak El Nino terhadap kualitas aset, terutama pada sektor usaha yang bergantung pada cuaca. Risiko iklim ini berpotensi menjalar dari sektor riil ke sektor keuangan dan menekan rasio kredit bermasalah atau NPL.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan El Nino masuk dalam cakupan risiko iklim yang menjadi salah satu fokus pengaturan dan pengembangan otoritas. Dampaknya berpotensi merembet dari sektor riil ke sektor keuangan, lalu memengaruhi kualitas aset, profitabilitas, likuiditas, hingga tingkat permodalan bank.
Dian menyebut sejumlah sektor ekonomi yang paling terpapar karena ketergantungan tinggi pada kondisi cuaca. Pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, serta industri makanan dan minuman masuk dalam daftar tersebut.
Cuaca yang lebih kering dan musim kemarau berkepanjangan meningkatkan risiko kekeringan, gangguan produksi, serta kebakaran hutan dan lahan. Rantai dampak inilah yang kemudian mengancam kemampuan debitur membayar kredit.
Gangguan produksi dan aktivitas usaha berdampak pada tiga hal sekaligus: menurunnya pendapatan, naiknya biaya operasional, dan melemahnya kemampuan bayar debitur. Kombinasi ketiganya berpotensi mendorong kenaikan kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL).
Dian menegaskan risiko ini tidak berhenti di level debitur perorangan maupun korporasi. Ketika NPL naik, tekanan merambat ke profitabilitas bank, lalu ke likuiditas, dan berujung pada tingkat permodalan.
Risiko iklim telah menjadi bagian dari kerangka pengaturan dan pengembangan OJK, bukan sekadar isu lingkungan. Alasannya, dampak El Nino bersifat lintas sektor dan bisa muncul dalam waktu relatif cepat setelah musim kemarau memburuk.
Bagi perbankan, implikasinya konkret. Bank yang memiliki eksposur besar di sektor pertanian dan perkebunan perlu memperkuat mitigasi risiko, termasuk penilaian ulang terhadap portofolio kredit yang sensitif terhadap cuaca.
OJK menekankan pentingnya kewaspadaan sejak dini terhadap potensi penurunan kualitas aset. Langkah yang bisa dilakukan antara lain pemantauan berkala terhadap debitur di sektor rentan, penguatan pencadangan, serta penyesuaian kebijakan kredit.
Dari sisi investor, perhatian biasanya mengarah ke bank dengan porsi kredit sektor agribisnis yang besar. Kenaikan NPL di segmen itu berpotensi menekan laba dan rasio profitabilitas pada periode-periode berikutnya.
Pernyataan OJK ini menjadi pengingat bahwa risiko iklim kini masuk hitungan dalam analisis kredit perbankan. Bank yang lebih cepat beradaptasi berpeluang menjaga kualitas asetnya lebih baik dibanding yang abai terhadap faktor cuaca.