SUMATERA BARAT — Inflasi tahunan September 2026 tercatat 3,28%, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang andil terbesar 1,28% setelah harga naik 4,37%. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memastikan lonjakan harga pangan tidak menggerus kualitas gizi menu program Makan Bergizi Gratis karena inflasi masih berada dalam rentang sasaran pemerintah.
Kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,74 pada September 2025 menjadi 112,31 pada September 2026 membuat pemerintah menaruh perhatian besar pada kelompok pangan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi kelompok tersebut, mulai dari ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, hingga daging sapi.
Juda Agung menilai ruang inflasi 2,5% plus-minus 1% masih cukup lebar untuk menyerap gejolak harga pangan tanpa mengubah standar gizi program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu.
"Dampak dari inflasi kepada MBG saya kira kalau inflasinya masih 2,5% plus-minus 1% itu masih dalam range kita, enggak akan memengaruhi kualitas dari gizinya. Saya kira ruang 2,5 persen itu tidak akan mempengaruhi kualitas makanan dan kualitas gizinya," kata Juda dalam Media Gathering Kemenkeu 2026 di Hotel Rancamaya, Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10).
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi tahunan 4,37% dengan andil 1,28% terhadap inflasi umum. Tekanan tidak hanya datang dari pangan. Kelompok transportasi mengalami inflasi 4,84% dengan andil 0,58%, dipicu kenaikan harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas, sepeda motor, hingga biaya servis dan mobil.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi paling tinggi, yakni 7,77%, dengan andil 0,53%. Kenaikan harga emas perhiasan menjadi pemicu utamanya.
Jika dirinci berdasarkan komponen, seluruh komponen mengalami inflasi secara tahunan:
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan kenaikan harga sejumlah pangan pada September dipengaruhi kondisi produksi hortikultura di daerah sentra. Produksi cabai rawit menurun di Garut, Temanggung, Bandung, Sampang, dan Magelang. Cabai merah juga turun, terutama di Bandung, Garut, dan Malang. Sebaliknya, produksi bawang merah justru meningkat di Bima, Probolinggo, dan Malang.
"Kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,37% dan memberikan andil inflasi sebesar 1,28%," kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10).
Secara bulanan, inflasi September 2026 tercatat 0,30%. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau kembali menjadi pendorong utama dengan andil 0,26%.
BPS menyoroti potensi tekanan harga pangan ke depan seiring prediksi El Nino yang dirilis BMKG. Fenomena cuaca tersebut berpotensi bertahan hingga awal 2027 dan mengganggu produksi komoditas pangan.
"Hal ini perlu menjadi perhatian terkait dampaknya terhadap perubahan harga terutama pada komoditas pangan," ujar Ateng.
Juda menegaskan pemerintah akan menjaga inflasi pangan karena dampaknya paling langsung dirasakan masyarakat menengah ke bawah. "Inflasi ini penting untuk dijaga, ya terutama yang terkait dengan inflasi pangan ini yang mengena langsung kepada masyarakat menengah ke bawah, ini memang benar-benar harus dikendalikan," katanya.
Bagi pelaku usaha kuliner dan penyedia bahan pangan, tekanan harga bergejolak pada cabai rawit, beras, dan daging ayam ras menjadi variabel biaya yang perlu diantisipasi. Pemerintah sendiri masih memegang ruang fiskal untuk menjaga stabilitas harga pangan sepanjang inflasi umum bertahan di kisaran sasaran 2,5% plus-minus 1%.