SUMATERA BARAT — Volume pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk menembus 16,5 juta barel per hari pada September 2026, menyamai rata-rata sebelum perang dan melonjak 10,5 juta bpd dibanding Maret lalu. Meski arus ekspor Selat Hormuz nyaris normal, harga bahan bakar olahan terutama diesel malah meroket ke rekor tertinggi sepanjang sejarah.
Data intelijen perdagangan global Kpler menunjukkan pemulihan pasokan minyak mentah Teluk berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan pasar. Angka 16,5 juta bpd itu bahkan sudah melampaui rata-rata harian sebelum konflik AS-Iran meletus, di luar pasokan Iran yang masih tersendat sanksi.
Ketidakseimbangan antara sisi hulu dan hilir inilah yang membuat harga diesel meledak. Minyak mentah mengalir lancar, tetapi kilang-kilang pengolahnya tidak ikut pulih dengan kecepatan yang sama.
Sejak perang meletus pada 28 Februari 2026, Teheran sempat memblokir Selat Hormuz dan memukul logistik energi global. Kontrol Iran atas jalur pelayaran itu kini dilaporkan kian melonggar setelah produsen minyak dan industri pelayaran menemukan sejumlah cara kreatif menerobos hambatan.
Perpindahan ke pipa darat menjadi jurus paling signifikan. Sekitar 40% minyak mentah kawasan kini diangkut tanpa melintasi Selat Hormuz, naik tajam dari hanya 17% sebelum perang. Pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) menjadi tulang punggung jalur baru ini.
Pengoperasian kembali pipa East-West Arab Saudi di Laut Merah, yang bermuara di Pelabuhan Yanbu, disebut sebagai pendorong utama pergeseran tersebut.
Di jalur laut, pelaku industri mengandalkan armada yang dijuluki kapal hantu (shuttle fleet). Mayoritas minyak melintasi Hormuz memakai kapal tanker raksasa (VLCC) yang mematikan transponder satelit agar tidak terdeteksi.
Cara lain yang dipakai adalah transfer antar-kapal atau ship-to-ship. Lebih dari 70% minyak mentah yang melewati Hormuz pada Agustus dialihkan ke tanker lain di perairan terbuka lepas pantai Oman atau Fujairah, UEA. Praktik ini hampir tidak pernah terjadi sebelum perang.
Pemulihan yang tidak seimbang ini menjelaskan paradoks harga di pasar energi. Pasokan produk minyak olahan seperti diesel berada dalam kondisi paling kritis, sementara minyak mentah justru berlimpah.
Bagi pelaku bisnis di Indonesia, tekanan harga diesel global berdampak langsung ke biaya logistik dan transportasi. Pemerintah perlu mencermati apakah kenaikan ini akan menular ke harga BBM nonsubsidi domestik dan memicu tekanan inflasi baru.
Sejumlah analis energi memperkirakan ketegangan di sisi hilir belum akan mereda selama kapasitas kilang di kawasan Teluk belum kembali normal. Selama itu pula, disparitas antara harga minyak mentah dan produk olahan akan tetap lebar.