PERURI Transformasi Digital, dari Cetak Rupiah ke E-Meterai dan GovTech

Penulis: Saifuddin Wahid  •  Rabu, 14 Oktober 2026 | 08:21:01 WIB
PERURI memperluas layanan dari percetakan sekuriti ke infrastruktur digital melalui e-Meterai, Peruri Sign, dan Peruri Tera.

SUMATERA BARAT — PERURI memperluas lini usaha dari percetakan sekuriti ke infrastruktur digital melalui layanan e-Meterai, Peruri Sign, dan Peruri Tera. Langkah itu diambil seiring peralihan transaksi masyarakat ke ponsel dan penyimpanan dokumen ke ruang cloud. Pengembangan dilakukan lewat strategi terukur bernama The Reset Strategy.

Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERURI) menegaskan transformasi digital bukan pilihan, melainkan keharusan strategis. Perusahaan pelat merah ini menilai inovasi menjadi kunci menjaga keamanan nasional di tengah perkembangan teknologi yang bergerak cepat.

Selama puluhan tahun, PERURI hadir dalam keseharian masyarakat, mulai dari transaksi dengan uang rupiah hingga penggunaan paspor saat bepergian. Kini pola itu berubah. Transaksi berpindah ke ponsel dan dokumen bermigrasi ke ruang cloud, sehingga PERURI menyesuaikan diri tanpa melepas bisnis lamanya.

Layanan Digital yang Sudah Berjalan

Transformasi itu tampak pada sejumlah layanan yang menyasar masyarakat dan dunia usaha. Berikut rinciannya:

  • e-Meterai: pembubuhan bea meterai pada dokumen secara praktis dan sah, tanpa perlu mencari meterai tempel di pasaran.
  • Peruri Sign: penandatanganan kontrak antarperusahaan secara elektronik, menghilangkan kebutuhan kirim dokumen fisik.
  • Peruri Tera: verifikasi dokumen melalui stempel digital.
  • Digital Identity dan ekosistem GovTech: mendukung digitalisasi layanan pemerintah sekaligus menjaga keamanan data masyarakat saat mengakses layanan publik.

Empat layanan itu menyasar segmen berbeda. e-Meterai dan Peruri Sign menyasar dunia usaha yang butuh dokumen sah tanpa tatap muka, sementara Peruri Tera dan GovTech menyasar instansi pemerintah serta masyarakat pengguna layanan publik.

Bisnis Inti Tetap Dijaga

Di balik ekspansi ke ranah digital, PERURI tidak menghapus pencapaian masa lalunya. Perusahaan tetap memperkuat bisnis inti di bidang percetakan sekuriti (security printing).

Dua jalur ini dijalankan bersamaan. Di satu sisi, PERURI merawat warisan lama dan memperkuat kepercayaan yang sudah terbangun. Di sisi lain, perusahaan membangun kapabilitas infrastruktur modern untuk mengamankan kedaulatan di ruang digital.

Bagi PERURI, keduanya saling menopang. Uang fisik dan dokumen negara tetap butuh pengamanan tingkat tinggi, sementara layanan publik yang makin banyak bermigrasi ke platform digital menuntut standar keamanan setara.

The Reset Strategy Jadi Kerangka Kerja

Seluruh inovasi itu tidak lahir secara impulsif. PERURI mengembangkannya lewat strategi terukur yang disebut The Reset Strategy.

Strategi ini bertumpu pada tiga fokus: perlindungan bisnis inti, pembenahan tata kelola (governance), dan perluasan infrastruktur digital. Ketiganya dijalankan sebagai satu paket, bukan program terpisah.

Perlindungan bisnis inti memastikan lini percetakan sekuriti tetap menjadi fondasi pendapatan. Pembenahan tata kelola menjaga proses internal tetap rapi saat perusahaan masuk ke lini usaha baru. Perluasan infrastruktur digital membuka ruang pertumbuhan berikutnya.

Peran Pegawai sebagai Penggerak

Transformasi PERURI juga bertumpu pada peran dan dedikasi pegawainya. Nilai ketakwaan, adab, dan kedisiplinan menjadi pedoman Insan PERURI dalam menjalankan tugas sekaligus mendorong inovasi.

Bagi Insan PERURI, bekerja bukan sekadar soal profesionalitas. Ada dimensi lain yang mereka pegang, yakni panggilan patriotisme.

Inovasi yang dihadirkan selalu dilandasi integritas dan loyalitas. Tujuannya satu: memastikan dalam setiap lembar uang fisik maupun baris kode digital, kedaulatan dan kepercayaan masyarakat Indonesia tetap berada di tangan yang aman.

Dengan posisi itu, PERURI memilih tidak berhenti sebagai pencetak uang negara. Perusahaan mengarahkan diri sebagai penjaga kepercayaan publik di dua dunia sekaligus, cetak dan digital.

Reporter: Saifuddin Wahid
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top