SUMATERA BARAT — Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menegaskan telur setengah matang bukan pilihan lebih sehat. Kebiasaan ini membawa risiko infeksi Salmonella dan membuat penyerapan protein anjlok dari 90 persen menjadi hanya 50 persen.
Banyak ibu di Indonesia masih percaya telur setengah matang ampuh menambah stamina dan membentuk massa otot. Anggapan itu dibantah langsung oleh spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, atau yang akrab disapa dr Yaze.
Menurut dr Yaze, telur yang belum matang sempurna justru menyimpan dua masalah sekaligus: bakteri Salmonella dan protein yang terbuang percuma. Penjelasan itu disampaikannya dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (22/10/2026).
Kekhawatiran utama telur mentah dan setengah matang adalah kontaminasi bakteri Salmonella. Bakteri ini bisa memicu gangguan pencernaan yang cukup mengganggu aktivitas harian.
"Jadi sebenarnya, telur tuh yang kita takutin kalau misalnya dia mentah ada bakteri Salmonella. Jadi akhirnya malah menimbulkan banyak masalah, misalnya kram perut hingga jadi diare," ujar dr Yaze.
Bagi ibu yang sedang mengurus anak dan keluarga, diare akibat Salmonella tentu merepotkan. Risikonya lebih serius pada anak kecil, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.
Selain soal bakteri, dr Yaze menyoroti efisiensi penyerapan protein yang sering luput diperhatikan. Telur yang dimasak matang sempurna membuat proteinnya terserap hingga 90 persen.
"Terus telur yang belum mateng, mau dia mentah atau setengah mateng, sebenarnya proteinnya itu diserap sama tubuh cuma sedikit, cuma 50 persen. Sementara kalau yang dia udah mateng itu bisa sampai 90 persen terserap proteinnya," terangnya.
Artinya, hampir separuh protein dalam telur setengah matang terbuang begitu saja. Padahal protein adalah zat gizi yang paling dicari dari konsumsi telur.
Satu butir telur ayam utuh yang dimasak matang mengandung sekitar 7 gram protein berkualitas tinggi. Angka ini jadi acuan dr Yaze untuk menunjukkan besarnya kerugian.
"Misalnya satu telur itu kalau dia mateng itu dia punya 7 gram protein, jadi kalau misalnya cuma terserap 50 persen kayak terlalu sia-sia ya. Sudah makan protein yang kita sebenarnya pengen dapet protein dari telur, malah kita cuma dapet setengahnya," pungkas dr Yaze.
Dengan kata lain, ibu yang menyajikan telur setengah matang untuk keluarga sebenarnya memberi asupan protein jauh lebih kecil dari yang diharapkan. Uang belanja tetap keluar, manfaatnya tidak maksimal.
Memasak telur hingga matang sempurna adalah langkah paling sederhana untuk menekan risiko Salmonella sekaligus mengoptimalkan protein. Pastikan bagian putih dan kuning telur tidak lagi berair.
Untuk anak kecil dan ibu hamil, hindari sajian telur mentah seperti mayonnaise rumahan atau telur ceplok setengah matang. Ganti dengan telur rebus, orak-arik matang, atau telur dadar yang dimasak hingga padat.
Simpan telur di lemari pendingin dan cuci tangan setelah memegang cangkangnya. Peralatan masak yang bersentuhan dengan telur mentah juga sebaiknya langsung dicuci agar tidak mencemari bahan lain.
Jika anggota keluarga mengalami diare, kram perut hebat, demam, atau muntah setelah makan telur yang kurang matang, segera konsultasikan ke dokter. Gejala dehidrasi pada anak seperti lemas, mulut kering, dan jarang buang air kecil perlu penanganan cepat.
Telur tetap sumber protein terjangkau dan berguna bagi keluarga Indonesia. Kuncinya ada pada cara mengolah: masak sampai matang, nikmati manfaat penuh proteinnya, dan jauhkan risiko bakteri dari meja makan rumah.