SUMATERA BARAT — Piala Asia 2027 resmi bergeser dari jadwal semula 7 Januari-5 Februari 2027 menjadi 23 Desember 2027-21 Januari 2028. Penundaan akibat situasi geopolitik Timur Tengah itu memunculkan persoalan baru bagi Jepang dan Australia, dua tim yang kontrak pelatihnya habis Februari 2027.
Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) mengumumkan perubahan jadwal lewat keterangan di situs resmi mereka. Arab Saudi dan Houthi masih berkonflik, dengan sejumlah bandara di Arab Saudi menjadi sasaran serangan.
Bagi Jepang dan Australia, pergeseran itu bukan sekadar soal tanggal. Dua tim unggulan tersebut punya kontrak pelatih yang sedianya berakhir tepat setelah Piala Asia 2027 digelar sesuai jadwal lama.
Hajime Moriyasu baru saja memperpanjang kontrak jangka pendek. Kesepakatan itu berakhir pada Februari 2027, dan Go Oiwa sudah disiapkan sebagai penggantinya.
Artinya, saat Piala Asia 2027 baru dimulai Desember 2027, Jepang kemungkinan besar sudah dilatih nama lain. Moriyasu menyusun persiapan dengan asumsi turnamen bergulir awal tahun.
Pelatih Timnas Australia, Tony Popovic, juga terikat kontrak jangka pendek yang habis Februari mendatang. Pria itu ditunjuk setelah pemecatan Graham Arnold.
Popovic telah menyiapkan skuad terbaiknya untuk Piala Asia 2027 versi jadwal lama. Penundaan memaksa Socceroos menata ulang rencana, termasuk soal siapa yang akan memimpin di bangku cadangan.
Bagi Indonesia, penundaan ini memberi waktu persiapan lebih panjang. Timnas berada di Grup F bersama Jepang, Qatar, dan Thailand.
Australia tergabung di Grup D bersama Irak, Singapura, dan Tajikistan. Kedua grup baru akan bergulir pada akhir 2027, sekitar 11 bulan lebih lambat dari rencana awal.
Jeda yang membentang hampir setahun dinilai cukup untuk membangun tim bersama pelatih anyar. Jepang dan Australia masih punya ruang melakukan transisi tanpa kehilangan momentum.
Namun keputusan soal siapa yang mendampingi skuad di Piala Asia 2027 harus segera diambil. Sebab persiapan menuju turnamen tidak bisa dimulai tanpa kejelasan di posisi pelatih.