Pencarian

Sejarah dan Realitas Sosial Minangkabau: Kosmopolitan, Inklusif, dan Toleran Sejak Zaman Perintis Republik

Senin, 25 Mei 2026 • 11:17:01 WIB
Sejarah dan Realitas Sosial Minangkabau: Kosmopolitan, Inklusif, dan Toleran Sejak Zaman Perintis Republik
Masyarakat Minangkabau dikenal dengan tradisi merantau yang membangun kosmopolitanisme dan inklusivitas sejak lama.

PADANG — Masyarakat Minangkabau tidak dibangun di atas isolasi sosial. Sebaliknya, etnis ini tumbuh melalui tradisi merantau, dialog peradaban, perdagangan, dan perjumpaan lintas budaya yang telah berlangsung berabad-abad. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sumatera Barat, Duski Samad, menegaskan bahwa narasi yang menggambarkan Sumatera Barat sebagai daerah eksklusif dan intoleran adalah sesuatu yang keliru.

"Narasi yang mencoba menggambarkan masyarakat Minang atau Sumatera Barat sebagai eksklusif dan intoleran. Itu sesungguhnya bertabrakan dengan sejarah, fakta sosial, dan realitas kebangsaan Indonesia sendiri," ujar Duski dalam pernyataan yang dikutip baru-baru ini.

Tokoh Minang di Garis Depan Perjuangan Bangsa

Sejarah Indonesia mencatat sejumlah tokoh besar dari ranah Minang yang menjadi perintis republik. Nama-nama seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim, Mohammad Natsir, hingga Sjafruddin Prawiranegara adalah figur yang berpikir melampaui batas etnis dan daerah. Mereka menjadikan Islam, kebangsaan, ilmu pengetahuan, dan kemanusiaan sebagai fondasi perjuangan.

Pada masa genting agresi militer Belanda, ketika Soekarno dan Hatta ditawan, Sjafruddin Prawiranegara memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat. Peran ini dinilai sebagai penyambung nyawa republik yang nyaris runtuh. Tanpa PDRI, sejarah Indonesia mungkin akan berbeda.

Dari Gelang Emas Hingga Diaspora Global

Pengorbanan masyarakat Minangkabau bagi Indonesia tidak main-main. Ketika republik baru berdiri dan menghadapi ancaman serius, masyarakat Bukittinggi rela menyumbangkan gelang emas dan perhiasan mereka demi membeli pesawat untuk perjuangan bangsa. Ajakan Mohammad Hatta saat itu disambut dengan antusiasme luar biasa.

Tradisi merantau dalam budaya Minangkabau pada hakikatnya adalah pendidikan kosmopolitan. Orang Minang dididik untuk keluar dari kampung, berinteraksi dengan dunia luar, dan belajar hidup bersama perbedaan. Saat ini, diaspora Minang tersebar di lebih dari 22 negara dan hampir di seluruh provinsi di Indonesia.

Fakta Kerukunan di Sumatera Barat

Realitas sosial menunjukkan bahwa mayoritas Muslim di Sumatera Barat tidak otomatis melahirkan penolakan terhadap keberadaan agama lain. Rumah-rumah ibadah non-Muslim berdiri di jalan utama dan pusat kota seperti Padang, Bukittinggi, Padang Panjang, dan Sawahlunto. Duski mengakui bahwa dalam dinamika masyarakat majemuk kadang muncul gesekan lintas agama, namun hal serupa juga terjadi di banyak daerah lain di Indonesia.

"Pemerintah daerah, tokoh lintas agama, FKUB, serta Kementerian Agama selalu sigap mencari solusi dialogis, konstitusional, dan damai. Sehingga persoalan dapat diselesaikan dengan baik serta memuaskan semua pihak," jelasnya.

Stigma Negatif yang Tidak Berdasar

Duski menyayangkan narasi di media sosial yang disuarakan oleh Abu Janda yang memberi kesan Sumatera, khususnya Sumatera Barat, sebagai daerah intoleran. Ia menilai narasi semacam itu tidak hanya menyederhanakan persoalan sosial secara serampangan, tetapi juga berpotensi merusak tenunan kebangsaan yang telah dirajut oleh para founding fathers.

Hingga saat ini, tidak ada satu pun institusi ilmiah kredibel maupun lembaga resmi negara yang menempatkan Sumatera Barat sebagai daerah intoleran. Sebaliknya, berbagai pengukuran resmi tentang kerukunan sosial menunjukkan Sumatera Barat tetap berada dalam kategori daerah yang rukun dan harmonis.

Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang dipegang masyarakat Minangkabau mengandung nilai musyawarah, penghormatan terhadap manusia, etika sosial, dan keteraturan hidup bersama. Keminangkabauan, keislaman, dan kebangsaan berjalan beriringan dalam membentuk marwah budaya yang kuat.

Bagikan
Sumber: fajarharapan.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks