BUKITTINGGI — Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Kota Bukittinggi tidak boleh sekadar menjadi acara seremonial tahunan. Ketua DPRD setempat, Syaiful Effendi, menegaskan momen ini harus dimanfaatkan untuk mengkaji ulang apakah keluarga-keluarga di kota tersebut sudah menjadi tempat bernaung yang aman dan mampu mencetak generasi pemenang.
Bonus Demografi dan Ancaman Stunting di Bukittinggi
Syaiful Effendi mengingatkan bahwa Indonesia saat ini tengah menikmati bonus demografi. Namun, potensi besar ini hanya akan menjadi kekuatan apabila dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia secara sistematis.
"Semua akan menjadi kekuatan apabila dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang dimulai dari keluarga khususnya di Bukittinggi," kata Syaiful saat memimpin upacara peringatan Harganas yang diikuti aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkot Bukittinggi, Selasa (30/6).
Menurutnya, ada tiga pilar utama yang harus menjadi perhatian bersama: penguatan kesehatan melalui pencegahan stunting, pendidikan karakter, dan ketahanan mental anggota keluarga. Tanpa ketiganya, generasi muda dinilai rentan menghadapi tekanan di masa depan.
Mengapa Peran Ayah Kini Jadi Sorotan Nasional?
Uniknya, tema Harganas ke-33 yang diperingati pada 29 Juni 2026 adalah "Ayah Wajib Hadir". Tema ini diusung langsung oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN untuk menekankan urgensi keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan anak dan perencanaan keluarga.
Syaiful Effendi menambahkan, selama ini peran ayah kerap terpinggirkan dalam urusan domestik. Padahal, kehadiran fisik dan kedekatan emosional seorang ayah menjadi fondasi bagi tumbuhnya generasi yang tangguh dan berkarakter.
"Selain itu, peran ayah dalam pengasuhan anak juga sangat penting, karena kehadiran fisik dan kedekatan emosional ayah menjadi fondasi bagi tumbuhnya generasi yang tangguh, berkarakter dan siap menghadapi tantangan masa depan," kata dia.
Dampak Nyata bagi Warga Bukittinggi
Dorongan DPRD ini menyasar langsung pola asuh di ribuan rumah tangga di Bukittinggi. Jika program penguatan keluarga berjalan efektif, angka stunting yang masih menjadi pekerjaan rumah di Sumatera Barat bisa ditekan. Selain itu, pendidikan karakter yang dimulai dari rumah diharapkan mampu menekan kenakalan remaja dan memperkuat ketahanan sosial masyarakat.
Pemkot Bukittinggi diharapkan tidak hanya berhenti pada upacara, tetapi juga merumuskan kebijakan turunan yang mendorong keterlibatan ayah dalam setiap program posyandu dan pendidikan anak usia dini di tingkat kelurahan.