Sebanyak 90 unit Vespa dari berbagai seri dan tahun produksi dipamerkan di Gedung Pasar Atas Bukittinggi, Sumatera Barat, sebagai rangkaian Taragak Basuo Scooteris Sumatera Barat (TBSS) ke-32 Bukittinggi-Agam, Kamis (3/9). Pameran yang berlangsung sejak 29 Agustus ini diagendakan masuk dalam kalender pariwisata tahunan daerah oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bukittinggi.
BUKITTINGGI — Ratusan penggemar Vespa antik dari berbagai daerah di Sumatera Barat memadati Gedung Pasar Atas Bukittinggi sejak akhir pekan lalu. Mereka datang bukan hanya untuk memamerkan kendaraan kesayangan, tetapi juga memperkuat solidaritas komunitas skuter klasik di tanah Minang.
Ketua Umum TBSS ke-32 Bukittinggi-Agam, Fadhly Reza, menyebut pameran ini berlangsung selama sepekan penuh. "Pameran Taragak Basuo Scooteris Sumatera Barat (TBSS) ke-32 Bukittinggi-Agam dimulai 29 Agustus hingga 4 September dan dilaksanakan di Pasar Atas," ujarnya di lokasi pameran.
Vespa Era 1950-an Jadi Koleksi Tertua
Dari puluhan unit yang dipajang, salah satu yang menyedot perhatian pengunjung adalah Vespa bermerek Douglas. Motor legendaris ini merupakan produk Inggris yang diproduksi menggunakan lisensi Piaggio pada periode 1951 hingga 1965.
"Vespa yang umur produksi tertua adalah Douglas tahun 50an, yang merupakan produk yang dibuat di Inggris dengan menggunakan lisensi Piaggio," jelas Fadhly.
Kehadiran unit langka tersebut melengkapi deretan Vespa dari berbagai generasi yang berjejer rapi di area gedung bersejarah tersebut. Beberapa di antaranya bahkan baru pertama kali muncul dan dilihat langsung oleh publik.
Apa Kata Pemkot Bukittinggi?
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menyempatkan diri meninjau pameran pada hari pembukaan. Ia mengaku kagum melihat langsung koleksi kendaraan tua yang terawat apik tersebut. Beberapa unit yang ditampilkan, menurutnya, baru pertama kali ia lihat secara langsung.
"Kami bangga dengan hadirnya TBSS di Bukittinggi, apresiasi dengan pecinta barang antik yang saya yakin susah mendapatkan Vespa langka apalagi perawatannya," kata Ramlan di sela-sela kunjungannya.
Ramlan menambahkan, kegiatan ini bukan sekadar ajang unjuk kebolehan komunitas otomotif. Pameran ini dinilai memiliki nilai edukasi bagi masyarakat tentang sejarah dan teknologi kendaraan roda dua dari masa ke masa.
Dampak Ekonomi untuk Pelaku Usaha Lokal
Di balik kemeriahan pameran, Pemkot Bukittinggi melihat potensi besar yang bisa dimaksimalkan. Rombongan peserta yang datang dari luar daerah dipastikan menginap di hotel dan berbelanja di pusat oleh-oleh serta kuliner khas setempat. Kondisi ini dinilai mampu menaikkan transaksi pelaku ekonomi di kota wisata tersebut.
"Pecinta scooter atau Vespa ini tidak main-main, berasal dari seluruh daerah. Mereka akan menginap di hotel dan tentunya berbelanja," kata Wako.
Oleh karena itu, kegiatan tahunan ini akan diusulkan masuk dalam 1001 event yang menjadi kalender pariwisata Bukittinggi. Langkah ini diambil agar dampak positifnya terhadap perekonomian masyarakat bisa terus dirasakan setiap tahun.
Agenda Puncak 5-6 September
Setelah pameran ditutup, rangkaian TBSS ke-32 masih berlanjut dengan agenda puncak pada 5-6 September 2026. Berbeda dari pameran yang bersifat statis, rangkaian puncak ini akan lebih banyak melibatkan partisipasi masyarakat umum.
Fadhly menyebut sejumlah kegiatan telah disiapkan panitia pada dua hari tersebut. "Rangkaian kegiatan pada 5-6 September adalah Live Band, Subuh Berjamaah, Senam Massal, Aksi Bersih Kota, Fun Game, dan Kontes Vespa," tuturnya.
Panitia juga menyediakan doorprize bagi peserta yang membeli merchandise resmi TBSS ke-32. Berbagai aktivitas tersebut menjadi penutup dari rangkaian agenda yang telah berlangsung sejak akhir Agustus lalu.