Pencarian

Konversi Motor Listrik Makin Sepi: Insentif Rp10 Juta Tak Lagi Jalan

Senin, 05 Oktober 2026 • 13:18:31 WIB
Konversi Motor Listrik Makin Sepi: Insentif Rp10 Juta Tak Lagi Jalan
Bengkel Dyvolt EV Shop mengerjakan konversi motor bensin ke listrik di Sumatera Barat.

SUMATERA BARAT — Minat konversi motor bensin ke listrik terus menurun karena insentif pemerintah yang tak kunjung jelas dan harga motor listrik baru yang makin murah. Bengkel bersertifikasi Kemenhub, Dyvolt EV Shop, mengaku kini hanya melayani 1-2 unit konversi per bulan, jauh dari keramaian saat insentif Rp10 juta per unit masih bergulir.

Adi Siswanto, pemilik Dyvolt EV Shop, menuturkan bahwa penurunan minat konversi sudah terasa sejak beberapa waktu terakhir. Bengkelnya termasuk yang tersertifikasi Kementerian Perhubungan untuk mengerjakan konversi motor listrik, namun kini orderan yang masuk tidak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Adi, salah satu pemicu utama adalah ketidakjelasan insentif yang dulu pernah digelontorkan pemerintah. Saat insentif masih berjalan, animo masyarakat untuk mengonversi motor bensin mereka cukup tinggi.

"Itu (insentif) yang masih kita tunggu-tunggu. Sekarang (konversi motor listrik) juga sudah mulai banyak ditinggalkan," ujar Adi kepada Uzone.id.

Harga Motor Listrik Baru Kini Lebih Murah dari Biaya Konversi

Selain soal insentif, Adi menyoroti harga motor listrik baru yang kini jauh lebih terjangkau. Kondisi ini membuat banyak konsumen berpikir ulang sebelum mengonversi motor lama mereka.

Alih-alih mengeluarkan biaya untuk mengubah motor bensin menjadi listrik, sebagian konsumen memilih membeli unit baru atau mencari motor listrik bekas yang harganya sudah sangat murah.

"Sudah murah-murah banget. Daripada kita konversi sayang-sayang mending kita cari motor listrik bekas," sebut Adi.

Vespa 2-Tak dan Motor Trail Jadi Sisa Peminat Konversi

Meski tren konversi menurun, Adi menyebut masih ada segmen yang bertahan. Peminatnya datang dari kalangan hobi, bukan pengguna harian yang mencari kendaraan murah.

Dua model yang masih rutin dikonversi adalah Vespa 2-tak klasik dan motor trail. Menurut Adi, keduanya dipilih karena bentuknya berbeda dari motor listrik pabrikan yang saat ini didominasi skutik.

"Ada 1-2 setiap bulannya, cuma enggak seramai tahun-tahun lalu ya," jelasnya. "Dan sekarang cuma beberapa tipe saja sih yang masih jalan untuk konversi. Salah satunya Vespa 2-tak, masih ada (konversi ke motor listrik) setiap bulan. Terus juga trail masih ada beberapa," tambahnya.

Alasan lain, konversi dari motor skutik seperti Vario atau BeAT dianggap tidak masuk akal secara ekonomi. Konsumen lebih memilih langsung membeli motor listrik baru yang bentuknya sudah mirip skutik.

"Karena kan kalau motor listrik pabrikan sekarang bentuknya skutik semua. Jadi ngapain konversi dari Vario, dari BeAT kayak gitu. Mending beli yang sudah jadi. Jadi yang paling banyak ya trails ama Vespa 2-tak," pungkasnya.

Insentif Rp10 Juta dan Target 120 Juta Unit yang Tak Terealisasi

Pemerintah pernah menggelontorkan insentif konversi motor listrik sebesar Rp10 juta per unit pada 2023, bersamaan dengan insentif untuk motor listrik baru. Insentif itu hanya bisa diklaim melalui bengkel yang tersertifikasi Kemenhub.

Kuota yang disiapkan saat itu mencapai 50 ribu unit sepeda motor di 2023, lalu naik menjadi 150 ribu unit pada 2024. Realisasinya tidak pernah menyentuh target yang ditetapkan.

Beberapa bulan sebelumnya, pemerintah bahkan sempat merencanakan program konversi hingga 120 juta unit. Program ambisius itu digadang-gadang untuk mempercepat transisi energi bersih dan mengurangi ketergantungan impor BBM.

Namun tanpa kejelasan insentif dan dengan harga motor listrik baru yang terus turun, program konversi menghadapi tantangan besar. Konsumen kini punya pilihan yang lebih praktis dan murah dibanding mengonversi motor lama mereka.

Yang Perlu Diperhatikan

  • Insentif konversi belum ada kepastian kapan akan kembali bergulir, sementara harga motor listrik baru makin kompetitif.
  • Bengkel bersertifikasi Kemenhub seperti Dyvolt EV Shop kini hanya melayani 1-2 unit konversi per bulan, turun jauh dari periode insentif.
  • Konversi kini didominasi kalangan hobi dengan Vespa 2-tak dan motor trail, bukan pengguna harian yang mencari alternatif transportasi murah.
  • Target 120 juta unit konversi yang pernah direncanakan pemerintah masih jauh dari realisasi di lapangan.

Bagi pemilik Vespa klasik atau motor trail yang ingin mempertahankan bentuk khas kendaraannya, konversi masih jadi opsi yang masuk akal. Tapi untuk pengguna harian yang cuma butuh transportasi murah, membeli motor listrik baru atau bekas saat ini jauh lebih efisien daripada mengonversi skutik lama.

Follow sumbar360.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: uzone.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks