PADANG — Diskusi Kepemudaan Nasional yang digelar DEMA UIN Imam Bonjol Padang bersama elemen kepemudaan berlangsung mulai pukul 20.00 WIB. Forum bertema "Sumpah Pemuda dan Perlawanan Terhadap Krisis Ekologi" itu menghadirkan Hidayatul Fikri, Koordinator Ketahanan Pangan dan Pembangunan Daerah Tertinggal DEMA PTKIN Seluruh Indonesia; Putra Rahmadani, Ketua Umum DEMA FDIK UIN Imam Bonjol Padang; serta David Hidayat, peraih Apresiasi Satu Indonesia Awards Bidang Lingkungan Tahun 2022. Aidil Fitra, Ketua HMP Manajemen Dakwah UIN Imam Bonjol Padang, bertindak sebagai pemandu diskusi.
Ketahanan Pangan Bergantung pada Lingkungan yang Terjaga
Hidayatul Fikri menempatkan krisis ekologi sebagai persoalan yang menyatu dengan ketahanan pangan dan pembangunan daerah. Menurutnya, keduanya tidak bisa dibahas terpisah.
"Ketahanan pangan tidak akan pernah terwujud tanpa lingkungan yang terjaga. Pemuda harus memiliki kepedulian terhadap kondisi daerahnya, karena pembangunan yang mengabaikan kelestarian lingkungan justru akan menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat di masa depan," ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan berisiko menciptakan persoalan baru bagi warga di kemudian hari.
Mahasiswa Diminta Bangun Gerakan Kolektif, Bukan Sekadar Kritik
Putra Rahmadani menyoroti posisi gerakan mahasiswa dalam merespons persoalan ekologis. Diskusi dan kritik dinilainya belum cukup tanpa gerakan kolektif yang berdampak langsung bagi masyarakat.
"Momentum Sumpah Pemuda harus kita maknai lebih dari sekadar seremoni. Pemuda dan mahasiswa harus berani mengambil sikap terhadap berbagai persoalan bangsa, termasuk krisis ekologi. Jangan sampai kita lantang berbicara tentang masa depan Indonesia, tetapi abai terhadap kerusakan lingkungan yang sedang terjadi di sekitar kita," tegasnya.
Aksi Kecil yang Konsisten Dinilai Lebih Berarti
David Hidayat menekankan pentingnya aksi nyata dan konsistensi dalam menjaga lingkungan. Perubahan besar, menurutnya, bisa dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan masyarakat secara berkelanjutan.
"Menjaga lingkungan bukan hanya tentang berbicara atau membuat gerakan sesaat. Hal terpenting adalah bagaimana kita membangun kesadaran, memberikan contoh, dan melakukan tindakan nyata secara konsisten. Pemuda harus menjadi bagian dari solusi atas persoalan lingkungan," jelasnya.
Ketiga narasumber sepakat bahwa krisis ekologi merupakan persoalan bersama yang menuntut keterlibatan semua pihak, bukan hanya pemerintah atau kelompok tertentu.
Dari Persatuan 1928 ke Perjuangan Keberlanjutan Lingkungan
Peringatan Sumpah Pemuda ke-98 menjadi pijakan diskusi. Semangat persatuan yang diwariskan para pendahulu, menurut peserta forum, perlu diterjemahkan ke dalam perjuangan konkret hari ini.
Jika dahulu pemuda bersatu memperjuangkan kemerdekaan, generasi sekarang dinilai menghadapi medan berbeda: memastikan lingkungan tetap layak huni dan masa depan bangsa tidak terganggu kerusakan ekosistem.
DEMA UIN Imam Bonjol Padang berharap diskusi tidak berhenti sebagai pertukaran gagasan. Forum ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya gerakan pemuda yang lebih konkret, kritis, dan berkelanjutan dalam menghadapi krisis ekologi di Sumatera Barat dan Indonesia.