JAKARTA — Pertamina Patra Niaga memutuskan menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green per 10 Juni 2026. Keputusan ini diambil setelah perusahaan mengaku sudah tidak mampu lagi menahan harga di tengah lonjakan biaya impor.
VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan mengungkapkan, sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, harga BBM impor yang dibeli Pertamina jauh lebih tinggi dari harga jual di dalam negeri.
Berdasarkan siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (9/6), harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Kenaikan ini hanya berlaku untuk dua produk tersebut. Harga Pertamax Turbo (RON 98) tetap Rp20.750 per liter, Dexlite (CN 51) tetap Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex (CN 53) tetap Rp24.800 per liter. BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar juga tidak berubah, masing-masing Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.
Menurut Sigit, Pertamina sebenarnya sudah menahan harga sejak Maret 2026 hingga awal Juni 2026. Alasannya, perusahaan memahami posisi pemerintah yang berat dalam menjaga daya beli masyarakat.
“Beberapa waktu kemarin itu masih bisa kami tahan, tetapi kenapa kok hari ini nggak bisa nahan? Karena kami harus memastikan ketersediaan di pasar itu ada barangnya,” ujar Sigit dalam Sarasehan Energi di Universitas IPB, Bogor, Rabu.
Ia menjelaskan, selama periode penahanan harga, Pertamina mengimpor BBM dengan harga tinggi tetapi menjualnya di dalam negeri dengan harga rendah. Akibatnya, pendapatan dari penjualan domestik tidak lagi cukup untuk membeli volume impor yang sama.
Sigit memperingatkan, jika kondisi ini dibiarkan, volume impor Pertamina akan terus menurun dan berdampak langsung pada stok BBM di dalam negeri.
“Kami tidak ingin kondisinya terus-terusan seperti ini, sehingga ketersediaan produk energi di masyarakat akan menurun. Ketika ada puncak permintaan, kondisi ini akan menjadi masalah,” kata Sigit.
Oleh karena itu, setelah berkonsultasi dengan pemerintah, Pertamina memutuskan melakukan penyesuaian harga. “Kami ingin memberikan pesan bahwa ini memang perlu naik karena kondisinya harus kami pastikan terkait dengan ketersediaan suplai,” tegasnya.
Kenaikan harga Pertamax diperkirakan akan menambah beban pengeluaran masyarakat menengah ke atas yang menjadi konsumen utama BBM nonsubsidi. Namun, Pertamina memastikan harga BBM bersubsidi tidak ikut naik agar daya beli masyarakat kecil tetap terjaga.
Keputusan ini juga menjadi sinyal bahwa fluktuasi harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak langsung ke kantong konsumen Indonesia. Pertamina berharap langkah ini bisa menjaga pasokan tetap aman hingga akhir tahun.