SUMATERA BARAT — Dalam beberapa pekan terakhir, kabar tutupnya sejumlah jaringan dealer yang sebelumnya menjual mobil Jepang dan berganti menjadi diler merek China mulai ramai. BYD Motor Indonesia angkat bicara. Menurut Luther Panjaitan, fenomena ini adalah konsekuensi logis dari pergeseran pasar global menuju kendaraan ramah lingkungan yang tidak bisa dihindari lagi.
"Kita enggak mau industri drop, tapi kita harus tau bersama transisi ke elektrifikasi ini tuh sudah keniscayaan dan memang menjadi fenomena di global. Jadi kita sebagai pelaku bisnis sebaiknya melihat adanya fenomena ini sehingga ada sustainability pada sisi bisnis retail," ujar Luther di Jakarta, belum lama ini.
Keputusan para pelaku retail otomotif untuk berpindah haluan bukan tanpa alasan. Mengacu data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil nasional periode Januari-Mei 2026 naik 12,8 persen menjadi 359.015 unit dibanding periode sama tahun lalu. Namun, kenaikan paling tajam justru berasal dari kendaraan elektrifikasi.
Luther menambahkan, "Kalau mengacu data beberapa bulan terakhir khususnya kepada kendaraan elektrifikasi cukup baik." Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bagi dealer untuk segera bertransformasi agar bisnis mereka tetap relevan dan berkelanjutan.
BYD melihat pergeseran ini bukan sekadar soal persaingan antara merek Jepang dan China. Lebih dari itu, ini adalah adaptasi terhadap perubahan teknologi dan preferensi konsumen. "Kita sebagai pelaku bisnis sebaiknya melihat adanya fenomena ini sehingga ada sustainability pada sisi bisnis retail," tegas Luther.
Meski optimistis, BYD tetap mengambil pendekatan hati-hati. Perusahaan menyadari bahwa daya beli masyarakat masih dipengaruhi stabilitas ekonomi nasional. "Kami berharap kondisi ekonomi nasional bisa semakin stabil, sehingga daya beli masyarakat meningkat dan industri otomotif secara keseluruhan ikut membaik," pungkasnya.