Aplikasi besutan startup Lithuania ini bekerja dengan algoritma bawaan yang mampu memisahkan suara drone dari kebisingan lingkungan. Begalihat terdeteksi, sistem langsung menandai lokasi perkiraan di peta digital yang bisa diakses oleh militer dan warga sipil. Semakin banyak perangkat yang berpartisipasi dalam satu area, semakin akurat data posisi dan arah terbang drone yang dihasilkan.
Drone Shahed—yang panjangnya hanya 2,4 hingga 3,6 meter dengan lebar sayap sekitar 2,4 meter—memiliki radar cross-section (RCS) yang sangat rendah. Material ringan pembuatnya membuat radar standar kerap salah mengartikannya sebagai kawanan burung atau sampah udara lainnya.
Namun, kelemahan terbesar drone ini justru terletak pada ketinggian terbangnya yang rendah. Suara baling-balingnya terdengar jelas oleh pengamat di darat, mirip dengan cara kerja acoustic mirror yang digunakan militer pada Perang Dunia I—cangkang beton raksasa yang diarahkan ke langit untuk menangkap suara mesin pesawat musuh dari kejauhan.
“Kuncinya ada di volume suara dan jumlah pendengar,” jelas pengembang aplikasi dalam wawancara dengan Lithuanian National Radio and Television. “Dengan ribuan ponsel yang tersebar, kami bisa membangun peta panas akustik yang memberitahu militer ke mana harus menembak.”
Yang membuat Shahed mematikan bukanlah kecanggihan teknologinya, melainkan harga produksinya yang sangat murah. Musuh bisa meluncurkannya dalam jumlah besar sekaligus untuk membanjiri sistem pertahanan udara. Ironisnya, kelemahan itu juga yang membuatnya rentan: jika terdeteksi dari jauh, drone ini bisa ditembak jatuh dengan senapan gentel atau senapan serbu yang dioperasikan dari pesawat latih bersayap tunggal buatan 50 tahun lalu.
Ukraina sendiri sudah mengambil langkah antisipatif dengan mewajibkan registrasi unit Starlink di dalam negeri. Langkah ini diambil setelah Rusia kedapatan menggunakan layanan internet satelit milik Elon Musk itu untuk memandu drone mereka hingga akhir tahun lalu.
Negara-negara lain juga berlomba mengembangkan penangkal drone berbiaya rendah. Beberapa di antaranya menguji coba senjata microwave perusak kawanan drone dan sistem laser anti-drone portabel yang bisa dibawa satu orang. Namun, pendekatan Lithuania ini menawarkan keunggulan berbeda: ia memanfaatkan perangkat yang sudah ada di tangan warga sipil.
Meski begitu, aplikasi ini tidak dimaksudkan sebagai solusi tunggal. Integrasi dengan sistem radar konvensional justru menjadi skenario ideal—operator radar bisa memverifikasi apakah titik di layar mereka benar-benar drone atau sekadar burung dengan data dari jaringan ponsel. Startup ini berharap sistemnya bisa menjadi lapisan pertahanan pertama yang murah dan cepat dipasang, terutama di daerah yang tidak terjangkau radar militer.