SUMATERA BARAT — Data Dinas Pertanian Kabupaten Dharmasraya mencatat fluktuasi harga di sejumlah pabrik. Harga tertinggi masih dibukukan PT AWB (harga Disbun) sebesar Rp3.789 per kilogram. Sebaliknya, harga terendah berada di level Rp3.240 per kilogram yang ditawarkan PT DSL. Selisih antara harga tertinggi dan terendah di kategori mitra mencapai Rp549 per kilogram.
Untuk kategori nonmitra, PT HKI menawarkan harga tertinggi sebesar Rp3.370 per kilogram. Disusul PT DL dan PT SMP yang sama-sama membanderol Rp3.330 per kilogram, PT SAK Timpeh Rp3.295 per kilogram, PT Incasi Pangian Rp3.265 per kilogram, dan PT DSL menjadi yang terendah di Rp3.240 per kilogram.
Menariknya, harga brondolan di PT DSL justru bertahan di level Rp3.800 per kilogram. Angka ini lebih tinggi dari harga TBS tertinggi, menandakan produk turunan sawit ini tetap memiliki nilai jual kompetitif di tingkat pabrik.
Dibandingkan pembaruan harga sebelumnya, rata-rata harga TBS memang terkoreksi tipis. Namun, pergerakan pasar secara umum dinilai relatif stabil. Tidak ada perubahan pada harga tertinggi yang masih bertahan di Rp3.789 per kilogram, mengindikasikan fluktuasi hanya terjadi di segmen pabrik dengan harga menengah ke bawah.
Dinas Pertanian Kabupaten Dharmasraya mencatat seluruh delapan pabrik kelapa sawit yang beroperasi telah menyampaikan laporan harga harian tepat waktu. Tidak ada satu pun PKS yang terlambat melaporkan data harga pada periode ini.
Meski demikian, dua dari delapan PKS dilaporkan tidak menerima buah dari masyarakat. Sementara itu, PT TKA tercatat belum memperbarui data harga pada pembaruan kali ini, sehingga belum bisa dibandingkan dengan pabrik lainnya.
Bagi petani sawit di Dharmasraya, fluktuasi harga TBS yang tipis ini menjadi sinyal bahwa pasar masih dalam fase penyesuaian. Para petani diimbau untuk terus memantau harga di masing-masing pabrik mitra maupun nonmitra guna mendapatkan harga jual terbaik. (HER)