LUBUK BASUNG — Produksi padi pada triwulan pertama mencapai 36.527,77 ton, sementara triwulan kedua naik menjadi 41.084,34 ton. Kepala Dinas Pertanian Agam Heri Prasetyo Wibowo optimistis angka ini akan terus bertambah seiring berbagai program intensifikasi yang tengah berjalan.
Data Dinas Pertanian menunjukkan fluktuasi produksi sepanjang semester. Januari mencatat 11.084 ton dari luas panen 2.083 hektare, Februari 13.744 ton (2.591 hektare), dan Maret 11.736 ton (2.212 hektare).
Memasuki triwulan kedua, produksi April turun menjadi 9.711 ton dari 1.832 hektare. Namun, Mei melonjak ke 14.087 ton (2.968 hektare) dan Juni menjadi puncak dengan 16.286 ton dari luas panen 3.641 hektare.
Heri mengatakan pihaknya mendorong petani menggunakan benih hasil penangkaran lokal yang lebih tahan terhadap hama wereng. "Distribusi pupuk juga kami pastikan tepat sasaran dan penggunaan," ujarnya di Lubuk Basung, Kamis.
Pemkab Agam juga menerapkan teknologi sawah pokok murah (SPM) serta memperbaiki irigasi yang rusak akibat bencana hidrometeorologi. Tahun ini, sebanyak 24 titik irigasi tengah diperbaiki.
Rehabilitasi lahan pertanian menjadi prioritas lain. Sebanyak 311 hektare lahan sawah telah direhabilitasi, dan 180 hektare lainnya sedang dalam proses pengusulan ke Kementerian Pertanian RI.
Sebagai perbandingan, produksi padi Agam sepanjang 2025 tercatat 138.438,46 ton dengan luas panen 28.951,06 hektare. Dengan capaian semester I tahun ini yang sudah di atas 50 persen dari total produksi tahun lalu, optimisme petani dan pemerintah daerah cukup beralasan.
"Dengan upaya tersebut, saya optimistis produksi padi akan meningkat nantinya," kata Heri.