SUMATERA BARAT — Pengalaman jangka panjang dengan iPhone Air mengungkap paradoks yang menarik: perangkat ini bisa terasa seperti upgrade besar dari iPhone Pro untuk penggunaan harian, tapi di saat yang sama terasa seperti downgrade besar begitu kamu membuka aplikasi kamera. Reviewer dengan akun Estecchmedia, Erwin, yang sebelumnya memakai iPhone 15 Pro, 16 Pro, hingga 17 Pro, mengungkapkan temuannya setelah bermigrasi penuh ke lini terbaru Apple ini.
Klaim paling kuat dari review ini datang dari pengalaman subjektif Erwin. Meski berasal dari ekosistem Pro, ia justru merasa iPhone Air memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan. Layarnya hampir selebar varian Pro Max, tetapi bodinya jauh lebih tipis dan ringan. "Buat gua dari segi experience ketika digunakan itu enggak ada masalah sama sekali. Benar-benar terasa upgrade dari versi Pro," ujarnya.
Panel layarnya juga tidak main-main. Dukungan ProMotion dan Always-On Display membuat kualitasnya setara lini Pro, sehingga aktivitas seperti menonton video, membaca, hingga editing foto terasa nyaman. Bobot yang ringan bahkan membuat Erwin percaya diri memakainya tanpa casing.
Di sinilah titik terlemah iPhone Air. Hanya mengandalkan satu kamera utama 48 MP tanpa lensa ultra-wide, awalnya Erwin mengira ini tidak akan mengganggu. Namun setelah pemakaian berbulan-bulan, ia menyadari bahwa merekam vlog, Instagram Story, atau Reels terasa sangat sempit. "Itu adalah minus yang sangat signifikan," katanya.
Keterbatasan ini diperparah dengan tidak adanya dukungan Apple Log, mode perekaman video dengan profil warna datar yang menjadi andalan kreator untuk color grading. "Yang penting bukan preset-nya, yang penting adalah Apple Log-nya," tegas Erwin. Kini, ia terpaksa membawa kamera tambahan seperti DJI Osmo Nano atau DJI Pocket 3 saat bepergian untuk mendapatkan footage berkualitas tinggi.
Selain kamera, sistem audio juga menjadi catatan. Hanya mengandalkan satu speaker, pengalaman menonton video dalam posisi landscape terasa kurang maksimal tanpa AirPods. Namun, Erwin menilai kekurangan ini tidak sebesar masalah kamera.
Untuk daya tahan baterai, tidak ada perbedaan signifikan dibanding iPhone Pro yang pernah ia pakai, meski dengan kebiasaan charging yang tidak teratur. Namun, perangkat relatif lebih cepat panas saat digunakan untuk konsumsi media atau pekerjaan berat.
Setelah enam bulan, penilaiannya tetap positif berkat kombinasi layar besar, bodi tipis, dan performa yang memadai untuk editing ringan. Namun, ada satu kekhawatiran yang mengganjal: apakah Apple akan melanjutkan lini ini? Erwin mengaku khawatir nasib iPhone Air akan sama seperti iPhone Mini yang dihentikan, karena ia sudah nyaman dengan layar besar tanpa harus membawa bobot Pro Max.
Kesimpulannya, iPhone Air adalah pilihan tepat bagi kamu yang mengutamakan kenyamanan harian, desain tipis, dan layar luas. Dengan harga yang kini jauh lebih rendah dari saat peluncuran, nilai jualnya semakin kuat. Namun, jika kamu kreator konten yang mengandalkan sudut pandang luas dan Apple Log, seri Pro masih menjadi pilihan yang jauh lebih masuk akal.