Surplus Dagang RI-India Tembus USD 6,68 Miliar, Mendag Dorong Percepatan PTA Bilateral

Penulis: Fadhli Usman  •  Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:06:31 WIB
Mendag Budi Santoso bertemu Menteri Perdagangan dan Industri India Piyush Goyal di sela-sela BRICS Trade Ministers Meeting di Jaipur, India, Jumat (7/8).

SUMATERA BARAT — Pertemuan bilateral di sela-sela BRICS Trade Ministers Meeting di Jaipur, India, Jumat (7/8), menjadi ajang negosiasi kunci antara Mendag Budi Santoso dan Menteri Perdagangan dan Industri India Piyush Goyal. Dari total perdagangan USD 11,89 miliar pada Januari-Juni 2026, kinerja ekspor Indonesia yang mencapai USD 9,28 miliar menunjukkan dominasi signifikan di pasar Asia Selatan tersebut.

Angka surplus ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, mengukuhkan posisi India sebagai mitra dagang strategis. Adapun total perdagangan kedua negara sepanjang 2025 tercatat USD 23,13 miliar dengan surplus untuk Indonesia sebesar USD 13,46 miliar.

Komoditas Andalan dan Target Liberalisasi 80 Persen

Batu bara, minyak sawit, dan baja nirkarat masih menjadi tulang punggung ekspor ke India. Di sisi lain, Indonesia mengimpor daging kerbau, kacang tanah, hingga suku cadang traktor dari negara tersebut.

Dalam pertemuan itu, Budi menegaskan komitmen Jakarta memenuhi target liberalisasi akses pasar sebesar 80 persen dalam reviu ASEAN-India Trade in Goods Agreement (AITIGA). Capaian itu jauh melampaui tingkat liberalisasi saat ini yang baru 41,9 persen.

"Indonesia mendukung terciptanya perdagangan yang semakin terbuka, fasilitatif, dan saling menguntungkan, sehingga mampu mendorong peningkatan perdagangan dan investasi kedua negara," ujar Budi dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (8/8).

Jalur Baru: Indonesia-India Preferential Trade Agreement

Hingga Juli 2026, pemerintah telah menyampaikan penawaran akses pasar secara bertahap yang mencakup sekitar 57 persen dari target liberalisasi tersebut. Namun, Budi tidak berhenti di skema ASEAN.

Ia mengapresiasi respons positif India terhadap usulan pembentukan Indonesia-India Preferential Trade Agreement (ID-IN PTA). Perjanjian bilateral ini dirancang untuk melengkapi AITIGA dengan mengurangi hambatan nontarif dan memperkuat fasilitasi perdagangan yang lebih efektif.

Pembahasan teknis mengenai ID-IN PTA diharapkan dapat dimulai setelah Review AITIGA mencapai konklusi substansial yang ditargetkan rampung pada Oktober 2026. Langkah ini dinilai krusial bagi pelaku usaha Indonesia yang ingin memperdalam penetrasi pasar dengan populasi lebih dari 1,4 miliar jiwa.

Apa Artinya bagi Pelaku Usaha dan Investor

Bagi eksportir dalam negeri, percepatan PTA bilateral berarti pengurangan bea masuk yang lebih agresif dibandingkan skema ASEAN. Sementara bagi investor India, penguatan kerja sama ini membuka peluang investasi di sektor hilirisasi dan infrastruktur Indonesia.

Pertemuan tersebut juga membahas pelaksanaan Working Group on Trade and Investment (WGTI) kedua yang akan diselenggarakan India pada 2026. Forum ini merupakan tindak lanjut kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Jakarta pada 7 Juli 2026.

Dengan rantai pasok global yang terus bergeser, penguatan hubungan dagang Indonesia-India menjadi bantalan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pelaku usaha disarankan memantau perkembangan perundingan AITIGA dan ID-IN PTA karena akan menentukan struktur tarif ekspor beberapa tahun ke depan.

Reporter: Fadhli Usman
Sumber: metrotvnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top