AGAM — Empat unit rumah permanen yang menjadi contoh pembangunan telah selesai dikerjakan. Keempatnya akan menjadi standar bagi ribuan unit lain yang akan dibangun menyusul.
Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Agam pada akhir November 2025 lalu meninggalkan kerusakan parah pada permukiman warga. Ribuan keluarga kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi sejak saat itu.
Hunian tetap yang dibangun ini dirancang dengan konstruksi permanen. Berbeda dengan hunian sementara (huntara) yang bersifat darurat, huntap ini ditujukan untuk tempat tinggal jangka panjang bagi para korban.
Pembangunan dimulai dari empat unit percontohan terlebih dahulu. Langkah ini dilakukan agar pemerintah daerah dan kontraktor bisa memastikan kualitas bangunan sebelum pembangunan massal dimulai.
Pemerintah pusat melalui instansi terkait telah mengalokasikan pembangunan sebanyak 1.816 unit huntap. Jumlah tersebut disesuaikan dengan data warga yang rumahnya rusak akibat bencana.
Pembangunan huntap ini menjadi prioritas utama dalam proses pemulihan pascabencana di Sumatera Barat. Warga yang rumahnya rusak diharapkan segera menempati hunian baru yang lebih layak dan aman.
Dengan rampungnya empat unit percontohan, proses pembangunan selanjutnya diharapkan bisa berjalan lebih cepat. Pemerintah menargetkan seluruh huntap dapat dihuni oleh para korban bencana dalam waktu dekat.
Keberadaan huntap ini menjadi angin segar bagi ratusan keluarga yang selama berbulan-bulan tinggal di pengungsian atau menumpang di rumah kerabat. Mereka akhirnya memiliki kepastian untuk kembali memulai kehidupan normal.
Pemerintah kabupaten juga akan memastikan infrastruktur pendukung di lokasi huntap, seperti akses jalan, air bersih, dan listrik, tersedia dengan baik. Hal ini penting agar para penghuni dapat tinggal dengan nyaman dan aman.