Dinangoi Kuliner Sagu Bolaang Mongondow, Pizza Tradisional yang Dulu Hanya untuk Bangsawan

Penulis: Mahsyar Hamdani  •  Senin, 17 Agustus 2026 | 13:11:31 WIB
Dinangoi, kuliner berbahan sagu berbentuk bundar tipis khas Bolaang Mongondow, disajikan di atas wadah tanah liat.

SUMATERA BARAT — Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, punya jawaban atas pizza ala Indonesia. Namanya dinangoi, kuliner berbahan dasar sagu yang bentuknya bundar tipis mirip pizza, dengan rasa manis dan gurih yang khas. Hidangan ini bukan sekadar makanan ringan; ia menyimpan sejarah panjang sebagai sajian istimewa di masa Kerajaan Bolaang Mongondow.

Warisan Kuliner Kerajaan yang Kini Mendunia

Dinangoi dipercaya sudah ada sejak awal berdirinya Kerajaan Bolaang Mongondow, bahkan mungkin lebih awal dari itu. Pada masa lampau, hidangan ini berstatus makanan elit yang khusus disajikan untuk para pejabat kerajaan. Kini, siapa pun bisa mencicipinya, menjadikannya salah satu daya tarik wisata kuliner di wilayah Kotamobagu dan sekitarnya.

Keunikan dinangoi terletak pada penyajiannya yang masih mempertahankan cita rasa tradisional. Perpaduan gurih dari parutan kelapa muda dan manis alami dari gula merah menciptakan harmoni rasa yang sulit ditemukan di kuliner lain. Teksturnya yang padat namun lembut membuatnya cocok dinikmati kapan saja.

Proses Pembuatan Dinangoi yang Unik

Bahan-bahan pembuatan dinangoi sederhana: koito atau pati sagu basah, parutan kelapa muda, garam, dan gula merah. Namun, proses memasaknya yang menarik perhatian. Secara tradisional, adonan sagu, kelapa, dan garam dipanggang menggunakan wadah tanah liat yang dipanaskan di atas tungku kayu bakar.

Cara memasaknya unik: adonan ditaruh merata di atas wadah tanah liat panas, lalu ditutup dengan wadah tanah liat lain yang sama ukurannya sebagai penekan. Teknik ini membuat dinangoi matang merata dengan tekstur padat dan tipis. Setelah sekitar satu menit dengan api kecil, wadah dibuka dan gula merah ditaburkan di atasnya, lalu didiamkan sebentar hingga meleleh sempurna.

Meski kini banyak yang beralih menggunakan wajan aluminium dan kompor gas, cita rasa dinangoi tetap otentik. Proses modern ini justru memudahkan wisatawan untuk melihat langsung bagaimana kuliner ini dibuat di rumah-rumah warga atau sentra oleh-oleh.

Waktu Terbaik Menikmati dan Sensasi Rasanya

Dinangoi paling nikmat disantap dalam keadaan hangat, saat gula merah masih meleleh di atas permukaannya. Rasa gurih dari kelapa parut berpadu dengan manisnya gula merah menciptakan sensasi yang pas di lidah. Hidangan ini sangat cocok dinikmati pada pagi atau sore hari, ditemani secangkir kopi robusta khas Kotamobagu.

Perpaduan dinangoi dengan kopi robusta lokal bukan tanpa alasan. Rasa kopi yang pekat dan sedikit pahit menyeimbangkan manisnya dinangoi, menghasilkan pengalaman ngopi yang otentik ala Bolaang Mongondow. Kombinasi ini menjadi favorit warga lokal dan semakin populer di kalangan wisatawan yang mencari pengalaman kuliner berbeda.

Oleh-Oleh Unik dari Bolaang Mongondow

Bagi traveler yang berkunjung ke Bolaang Mongondow, dinangoi adalah pilihan oleh-oleh yang patut dipertimbangkan. Berbeda dari oleh-oleh khas pada umumnya, dinangoi menawarkan cerita sejarah dan cita rasa tradisional yang otentik. Anda bisa membawanya pulang sebagai buah tangan yang unik untuk keluarga atau rekan kerja.

Untuk mendapatkan dinangoi, wisatawan bisa mencarinya di pasar tradisional atau warung-warung lokal di wilayah Bolaang Mongondow dan Kotamobagu. Disarankan untuk datang pada pagi hari saat dinangoi baru selesai dibuat, sehingga Anda mendapatkan kualitas terbaik. Informasi lebih lanjut mengenai penjual dan harga terkini dapat dikonfirmasi melalui dinas pariwisata setempat.

Berkunjung ke Bolaang Mongondow belum lengkap tanpa mencicipi keunikan dinangoi. Kuliner ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga jendela untuk mengenal sejarah dan budaya masyarakat Bolaang Mongondow yang kaya.

Reporter: Mahsyar Hamdani
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top