Pencarian

Tiga Desa Wisata Sumatera Barat dengan Pesona Alam dan Budaya yang Menawan

Selasa, 11 Agustus 2026 • 15:44:01 WIB
Tiga Desa Wisata Sumatera Barat dengan Pesona Alam dan Budaya yang Menawan
Desa wisata terbaik di Sumatera Barat. (Foto: NET)

SUMATERA BARAT - Desa wisata unggulan di Sumatera Barat menyuguhkan gabungan antara keindahan alam, adat Minangkabau, dan gaya hidup masyarakat yang masih erat memegang kearifan lokal.

Keberadaan desa wisata terbaik di Sumatera Barat juga membuktikan bahwa potensi pariwisata tidak melulu ada di perkotaan, melainkan bisa berkembang dari nagari yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang dikelola secara lestari.

Sumatera Barat memang lekat dengan rumah gadang, rendang, silek, serta pemandangan pegunungan yang terbentang dari dataran tinggi hingga wilayah pesisir.

Di balik kekayaan tersebut, ada sejumlah nagari yang berubah menjadi destinasi wisata dengan ciri khas masing-masing.

Pengembangan desa wisata juga berperan besar dalam menggerakkan ekonomi warga.

Konsep desa wisata memberi ruang bagi potensi lokal seperti kuliner, seni, homestay, kerajinan, dan aktivitas alam untuk menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), penilaian tidak hanya mencakup daya tarik wisata, tetapi juga homestay, aspek digital dan kreatif, suvenir, toilet umum, penerapan CHSE, serta kelembagaan desa.

Tiga nagari berikut menjadi contoh yang menarik karena memiliki kekuatan alam dan budaya sekaligus sudah mendapat pengakuan dalam ajang ADWI.

Desa Wisata Terbaik di Sumatera Barat dengan Pesona Alam dan Budaya

Tiga nagari atau desa wisata terbaik di Sumatera Barat berikut menjadi contoh yang menarik karena memiliki kekuatan alam dan budaya sekaligus telah meraih pengakuan dalam ajang ADWI.

1. Nagari Tuo Pariangan, Tanah Datar

Nagari Tuo Pariangan terletak di Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar. Wilayah ini berada di kaki Gunung Marapi dengan ketinggian sekitar 800 hingga 1.000 meter di atas permukaan laut.

Kondisi geografis ini membuat Pariangan punya udara yang relatif sejuk, perbukitan hijau, dan hamparan sawah bertingkat yang menjadi ciri khas lanskapnya.

Pariangan juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat bagi masyarakat Minangkabau.

Dalam tambo atau tradisi lisan, Pariangan dikenal sebagai salah satu nagari yang terkait dengan awal peradaban masyarakat Minangkabau.

Nilai historis tersebut membuat kunjungan ke Pariangan bukan hanya tentang menikmati keindahan alam, tetapi juga kesempatan untuk memahami akar budaya setempat.

Masjid Tuo Pariangan menjadi salah satu bangunan yang menyita perhatian. Bangunan ini berdiri di tengah permukiman tradisional dan dikelilingi surau serta rumah warga.

Kehadiran masjid tua ini menjadi bagian penting dari identitas budaya Pariangan.

Daya tarik Pariangan semakin kaya dengan beragam aktivitas berbasis budaya, salah satunya silek atau seni bela diri khas Minangkabau.

Jadesta mencatat sejumlah aliran silek yang berkembang di Nagari Tuo Pariangan, antara lain Macan Tuo Talamau, Silek Padusi, dan Silek Tuo Langkah Ampek.

Wisatawan juga bisa menikmati lanskap persawahan, belajar tentang tradisi masyarakat, mencicipi kuliner lokal, serta menginap di homestay yang dikelola warga.

Dari sisi prestasi, Pokdarwis Nagari Tuo Pariangan berhasil meraih Juara 1 kategori Desa Wisata Berkembang dalam ADWI 2022.

Pada 2026, upaya promosi dan kolaborasi Pariangan terus bergulir melalui festival, pameran, dan kerja sama dengan berbagai pihak.

Keistimewaan ini menjadikan Pariangan destinasi yang tepat bagi wisatawan yang ingin merasakan kombinasi wisata alam, sejarah, budaya, dan kuliner dalam satu perjalanan.

2. Desa Wisata Silokek, Kabupaten Sijunjung

Jika Pariangan menyuguhkan perpaduan budaya dan lanskap pegunungan, Silokek hadir dengan karakter wisata alam yang lebih menantang.

Desa Wisata Silokek berada di Kabupaten Sijunjung dan terkenal dengan bentang alam karst, sungai, hutan, serta formasi batuan purba.

Jadesta mencatat Silokek sebagai salah satu geosite yang kaya akan nilai geologi. Tebing curam, ngarai, bukit karst, dan aliran sungai menjadi bagian dari panorama yang bisa dinikmati sepanjang perjalanan menuju kawasan ini.

Desa Wisata Silokek juga tercatat sebagai salah satu dari 50 Besar ADWI 2022.

Salah satu aktivitas yang paling diminati adalah arung jeram di Sungai Batang Kuantan. Kegiatan ini menawarkan sensasi menyusuri sungai sambil menikmati tebing karst dan kawasan hutan.

Berdasarkan informasi Jadesta, kegiatan arung jeram Silokek tersedia dengan instruktur bersertifikasi BNSP.

Selain arung jeram, ada aktivitas panjat tebing, trekking, camping, dan canyoning. Bagi penggemar kegiatan luar ruangan, variasi ini membuat Silokek punya daya tarik yang berbeda dari desa wisata dengan konsep rekreasi biasa.

Jembatan gantung Sangkiamo juga menjadi salah satu spot menarik. Dari atas jembatan, pemandangan berupa bebatuan, bukit karst, dan aliran Batang Kuantan tampak dari ketinggian.

Kawasan ini juga bisa menjadi jalur trekking, pengamatan burung, maupun fotografi alam.

Tidak hanya alam, Silokek juga memiliki kekayaan budaya. Berbagai aktivitas tradisional seperti silek dan Tari Mandulang Ame menjadi bagian dari atraksi desa.

Kehadiran kuliner lokal, homestay, serta paket wisata membuat perjalanan bisa dikembangkan menjadi pengalaman tinggal bersama masyarakat.

Konsep ini menunjukkan bahwa Silokek bukan sekadar menjual pemandangan, tetapi juga pengalaman.

Wisatawan bisa berinteraksi dengan warga, memahami tradisi, menikmati kuliner, sekaligus mengikuti aktivitas petualangan.

3. Desa Wisata GTP Ulakan dan Green Talao Park

Pilihan berikutnya berada di Kabupaten Padang Pariaman, tepatnya Nagari Ulakan. Desa wisata ini punya karakter yang berbeda karena menggabungkan wisata religi, budaya, pesisir, dan ekowisata.

Salah satu daya tarik utamanya adalah Green Talao Park. Kawasan ini dikembangkan dengan konsep community-based ecotourism.

Lahan yang sebelumnya kurang produktif kemudian disulap menjadi kawasan wisata berbasis talao atau ekosistem rawa pesisir dan mangrove.

Menurut data Jadesta, Green Talao Park memiliki jalur trekking talao atau mangrove sepanjang sekitar 1,8 kilometer.

Pengelolaannya melibatkan Badan Usaha Milik Nagari, kelompok sadar wisata, kelompok usaha ekonomi masyarakat, pelaku pariwisata, serta pemerintah daerah.

Konsep ini menjadi salah satu keunggulan utama GTP Ulakan. Pengelolaan yang melibatkan masyarakat membuat manfaat ekonomi dari aktivitas wisata berpeluang lebih besar kembali kepada warga sekitar.

Pemandangan mangrove dan kawasan perairan bisa dinikmati melalui jalur trekking.

Beberapa aktivitas wisata juga tersedia, seperti permainan bebek dayung, pembuatan kerajinan dari tempurung dan bambu, kerajinan pandan, hingga kegiatan yang berkaitan dengan hasil alam pesisir.

Selain Green Talao Park, Nagari Ulakan punya daya tarik religi berupa makam Syekh Burhanuddin.

Kawasan ini memiliki sejarah penting dalam penyebaran Islam di Ranah Minang dan menjadi tujuan ziarah dari berbagai daerah.

Keberadaan wisata religi dan ekowisata dalam satu kawasan membuat Ulakan memiliki karakter yang cukup lengkap.

Perjalanan tidak hanya berfokus pada rekreasi, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memahami sejarah, tradisi, lingkungan pesisir, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Dalam catatan Jadesta, Desa Wisata GTP Ulakan masuk 300 Besar ADWI 2021 dan 50 Besar ADWI 2022. Saat ini kategorinya tercatat sebagai desa wisata maju.

Mengapa Desa Wisata Penting bagi Pariwisata Sumatera Barat?

Perkembangan desa wisata membawa perubahan dalam cara menikmati destinasi. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat objek tertentu, tetapi juga berinteraksi dengan lingkungan dan masyarakat lokal.

Model ini dapat membuka peluang bagi berbagai sektor ekonomi.

Homestay membutuhkan tenaga pengelola, paket wisata membutuhkan pemandu, kegiatan budaya melibatkan pelaku seni, sedangkan kuliner dan suvenir bisa menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.

Selain itu, desa wisata dapat membantu menjaga tradisi agar tetap lestari. Kesenian tradisional, permainan rakyat, kuliner khas, kerajinan, dan upacara adat dapat diperkenalkan kepada pengunjung tanpa kehilangan akar budaya.

Namun, pengembangan wisata tetap membutuhkan pengelolaan yang cermat. Peningkatan jumlah wisatawan perlu diimbangi dengan pengelolaan sampah, perlindungan ekosistem, pengaturan kapasitas kunjungan, serta pelestarian bangunan dan tradisi.

Konsep berkelanjutan menjadi semakin penting karena daya tarik utama desa wisata justru terletak pada keaslian lingkungan dan kehidupan masyarakatnya.

Jika alam rusak atau budaya lokal kehilangan karakter, keunggulan destinasi juga dapat berkurang.

ADWI sendiri menempatkan kelembagaan desa sebagai salah satu aspek penilaian. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan desa wisata bukan hanya ditentukan oleh panorama, tetapi juga kemampuan masyarakat dan pengelola dalam membangun sistem pariwisata yang berkelanjutan.

Pariangan, Silokek, dan GTP Ulakan memperlihatkan tiga wajah berbeda dari pariwisata Sumatera Barat.

Pariangan menonjolkan sejarah dan budaya Minangkabau dengan lanskap pegunungan. Silokek menawarkan kekayaan geologi dan petualangan alam. Sementara itu, GTP Ulakan menghadirkan perpaduan ekowisata pesisir dan wisata religi.

Ketiganya menunjukkan bahwa kekuatan desa wisata tidak harus seragam. Setiap nagari dapat mengembangkan karakter berdasarkan kondisi alam, budaya, sejarah, dan kemampuan masyarakat setempat.

Pada akhirnya, kekayaan tersebut membuat Sumatera Barat memiliki pilihan destinasi yang jauh lebih beragam daripada sekadar wisata kuliner dan kota.

Perjalanan ke desa wisata juga membuka kesempatan untuk menikmati alam sekaligus mengenal kehidupan masyarakat dari jarak yang lebih dekat.

Desa wisata terbaik di Sumatera Barat bukan hanya indah, tetapi juga hidup bersama budaya dan masyarakatnya.

 

Follow sumbar360.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks