BUKITTINGGI — Kepala Stasiun GAW Bukit Koto Tabang Sugeng Nugroho menyampaikan penurunan kualitas udara itu terjadi dalam beberapa hari terakhir dan berdampak pada wilayah Sumatera Bagian Tengah (Sumbagteng). Daerah terdampak meliputi Kabupaten Dharmasraya, Sijunjung, Kota Sawahlunto, Kabupaten Lima Puluh Kota, Tanah Datar, Solok, hingga Kota Bukittinggi.
Data ini dirilis Selasa (8/9/2026) melalui sambungan telepon. Sugeng menjelaskan, kabut asap yang terbawa angin dari karhutla di provinsi tetangga menjadi penyebab utama memburuknya kualitas udara di wilayah tersebut.
Berdasarkan kajian GAW Bukit Koto Tabang, konsentrasi polutan Particulate Matter 2,5 (PM 2,5) di sejumlah wilayah Sumbagteng berada di angka 15,5 hingga 55 mikrogram per meter kubik. Angka itu menempatkan beberapa daerah dalam kategori sedang sampai tidak sehat.
"Inilah dalam beberapa waktu terakhir, beberapa wilayah Sumatera Barat dalam kategori sedang hingga tidak sehat," tutur Sugeng Nugroho.
Menindaklanjuti kondisi tersebut, GAW Bukit Koto Tabang telah berkoordinasi dengan sejumlah pemangku kebijakan di tingkat kabupaten dan kota. Lembaga itu merekomendasikan pembaruan data kualitas udara secara klaster per kecamatan agar respons kebijakan lebih tepat sasaran.
"Seperti di Kota Bukittinggi, kita sudah minta untuk update informasi per kecamatan supaya lebih detail. Jadi pimpinan di Kota Bukittinggi bisa mengambil kebijakan untuk masyarakat," terangnya.
Sugeng Nugroho mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan yang mudah terpapar asap atau debu bermuatan PM 2,5, untuk menggunakan masker sebagai alat pelindung diri. Warga juga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik.
"Walaupun kondisinya masih kategori sedang, lebih baik menggunakan proteksi diri," tutup Kepala Stasiun GAW Bukit Koto Tabang.