SUMATERA BARAT — Direktur ICT Institute Heru Sutadi memprediksi pasar laptop Indonesia pada 2027 tetap punya prospek, tetapi pertumbuhannya bakal jauh lebih menantang akibat tekanan harga komponen. Kenaikan harga, terutama dari sisi memori, disebut akan membuat konsumen lebih selektif dan menunda pembelian. Produsen dituntut menawarkan nilai terbaik di tiap kelas harga, bukan sekadar perang harga.
Tekanan biaya itu diperkirakan mengubah perilaku belanja konsumen. Alih-alih mengejar upgrade rutin, pembeli akan lebih dulu menimbang apakah perangkat baru benar-benar dibutuhkan.
Konsumen Diprediksi Tahan Diri dari Upgrade
Menurut Heru, konsumen kemungkinan memakai laptop lebih lama dan baru membeli ketika ada kebutuhan mendesak. Pola ini membuat pertumbuhan pasar tahun depan lebih ditentukan oleh kebutuhan nyata, bukan keinginan memperbarui perangkat.
Ia memprediksi pasar laptop 2027 akan lebih menantang karena permintaan tidak lagi didorong siklus upgrade teknologi semata. Pembeli akan menghitung ulang manfaat setiap rupiah yang dikeluarkan.
Segmen Gaming Paling Sensitif terhadap Harga
Laptop gaming disebut relatif lebih rentan terhadap kenaikan harga. Konsumen di segmen ini umumnya sangat memperhatikan value for money, sehingga kenaikan harga langsung memengaruhi keputusan pembelian.
Ketika harga naik, pembeli punya beberapa opsi selain batal membeli. Mereka bisa menurunkan spesifikasi perangkat atau menunda pembelian sampai ada promo.
Meski begitu, Heru menilai gamer enthusiast tetap punya willingness to pay untuk mendapatkan performa tinggi. Tekanan terbesar justru diperkirakan terjadi pada segmen kelas menengah.
Produsen Diminta Sediakan Konfigurasi Fleksibel
Heru menyoroti pentingnya pilihan konfigurasi yang tidak memaksa konsumen membayar mahal untuk spesifikasi yang tidak mereka butuhkan.
"Produsen perlu menyediakan konfigurasi yang fleksibel agar konsumen tidak merasa harus membayar mahal untuk spesifikasi yang sebenarnya tidak mereka butuhkan," kata Heru.
Ia juga menilai persaingan pasar laptop tahun depan tidak akan semata-mata mengandalkan perang harga. Ruang margin produsen dinilai semakin terbatas untuk strategi tersebut.
Strategi Value Jadi Kunci, Bukan Perang Harga
Menurut Heru, pendekatan yang lebih efektif adalah menawarkan value terbaik pada setiap kelas harga. Caranya bisa lewat kombinasi spesifikasi yang tepat, efisiensi energi, daya tahan baterai, kemampuan AI, layanan purnajual, garansi, hingga kemudahan upgrade.
Produsen juga perlu memperkuat strategi bundling dan promosi. Skema cicilan, trade-in, serta program khusus untuk pelajar dan pekerja disebut bisa menjadi daya tarik tambahan di tengah tekanan harga.
"Dan yang penting, jangan sampai kenaikan harga hanya diterjemahkan sebagai pemotongan spesifikasi," kata Heru.
Konsumen Indonesia Semakin Kritis
Heru menilai pembeli laptop di Indonesia kini semakin cermat dalam menilai produk. Mereka membandingkan harga versus manfaat, bukan hanya melihat merek.
"Hal itu konsumen Indonesia semakin kritis dimana mereka akan membandingkan harga versus manfaat, bukan cuma merek," tuturnya.
Bagi calon pembeli laptop di Indonesia, prediksi ini jadi sinyal untuk lebih jeli memilih konfigurasi sesuai kebutuhan. Menunda pembelian atau menunggu promo bisa jadi langkah masuk akal, terutama di segmen kelas menengah yang diprediksi paling tertekan kenaikan harga.