Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Dzulfikar Ahmad Tawalla melepas 40 pekerja migran Indonesia asal Sumatera Barat untuk bekerja di Malaysia melalui program SMK Go Global. Pelepasan berlangsung di Padang, Jumat, dan menjadi angkatan pertama dari rangkaian penempatan skala besar yang dirancang pemerintah. Para pekerja akan mengisi sektor patisserie dan food service di negara tujuan.
PADANG — Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla melepas 40 pekerja migran Indonesia asal Sumatera Barat untuk bekerja di Malaysia. Program SMK Go Global yang mengirim mereka disebut sebagai instruksi langsung Presiden Prabowo Subianto.
Dzulfikar menyatakan penempatan kali ini menjadi angkatan pertama dari serangkaian program penempatan skala besar. Pemerintah menargetkan peningkatan keterampilan bagi 500 ribu calon pekerja migran hingga 2029.
Program direktif SMK Go Global dirancang untuk menyiapkan pekerja migran Indonesia yang kompeten dan siap mengisi peluang kerja global. Dzulfikar menyebut program ini merespons kebutuhan tenaga kerja di sektor patisserie dan food service Malaysia.
"Penempatan PMI ini menjadi momentum bersejarah karena merupakan angkatan pertama dari serangkaian program penempatan skala besar yang dirancang pemerintah," kata Dzulfikar saat acara pelepasan di Padang.
Secara nasional, tenaga kerja yang dikirimkan tahun ini sekitar 40 ribu orang. Jumlah itu akan naik menjadi 140 ribu orang pada tahun depan, lalu 180 ribu orang pada 2028, dan 140 ribu orang pada 2029.
Dzulfikar menekankan agar calon pekerja migran memiliki prinsip "5 siap" sebelum diberangkatkan. Lima prinsip itu meliputi siap fisik, siap mental, siap visi, siap dokumen, dan siap kompetensi.
"Prinsip ini harus terpenuhi sebelum calon pekerja diproses, dilatih, ditingkatkan keterampilannya, dan ditempatkan di negara tujuan untuk bekerja sebagai PMI," ujarnya.
Ia juga berpesan agar pekerja yang berangkat mempertahankan etos kerja yang selama ini dikenal sangat tinggi. Menurutnya, etos kerja tersebut menjadi modal untuk bersaing di pasar kerja global.
Selain sektor makanan dan minuman, pasar luar negeri membutuhkan tenaga kerja terampil di sektor manufaktur, pelayanan, kesehatan, hingga perkebunan. Dzulfikar menyebut kebutuhan itu muncul dari fenomena penuaan populasi di negara-negara maju.
"Langkah ini diambil untuk merespons fenomena penuaan populasi di negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, hingga Jerman yang membutuhkan tenaga kerja muda profesional dan kompeten," katanya.
Pelepasan 40 pekerja asal Sumbar ini menjadi bagian awal dari target pengiriman tenaga kerja nasional yang terus meningkat hingga 2029.