Wali Kota Pariaman Yota Balad menyatakan kondisi dua siswi yang dirujuk ke RSUP M Djamil Padang akibat keracunan makanan telah membaik dan kini dirawat di ruang rawat inap. Keduanya bagian dari 128 pelajar yang mengeluhkan gejala pusing, mual, hingga muntah usai menyantap makanan dari Sentra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat. Pemerintah Kota Pariaman masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab kejadian.
PADANG — Wali Kota Pariaman Yota Balad menyampaikan kabar terbaru soal dua siswi yang dirujuk ke RSUP M Djamil Padang. Keduanya disebut sudah melewati masa kritis dan kini menjalani perawatan di ruang rawat inap.
"Dua siswi yang dirujuk dua hari yang lalu kondisinya saat ini telah membaik dan berada di ruang rawat inap RSUP M Djamil," kata Yota Balad saat ditemui di RSUP M Djamil Padang, Jumat.
Sebelumnya, kedua pelajar tersebut sempat ditangani di ruang Intensive Care Unit (ICU). Mereka dirujuk dari RSUD setempat pada Rabu setelah kondisi awal dinilai perlu penanganan lebih lanjut.
Kedua siswi itu merupakan bagian dari 128 siswa yang mengeluhkan gejala keracunan seperti pusing, mual, hingga muntah pada Senin (14/9). Makanan yang disantap ratusan pelajar tersebut berasal dari Sentra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kota setempat.
Selain dua siswi yang dirujuk ke RSUP M Djamil, Yota memastikan ratusan siswa lainnya yang diduga keracunan kini sudah dalam keadaan aman.
Pemkot Pariaman menonaktifkan status SPPG penyuplai makanan sebelum kejadian. Langkah itu diambil sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab keracunan.
Pemerintah kota juga menginstruksikan dinas kesehatan menguji kelayakan tujuh SPPG yang ada di Pariaman. Pengujian menyasar seluruh dapur yang melayani program pemenuhan gizi pelajar di wilayah tersebut.
Yota Balad memperkirakan kedua siswi bisa dipulangkan dari RSUP M Djamil Padang dalam satu atau dua hari ke depan jika kondisi mereka terus membaik.
Ia menegaskan pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap kejadian diduga keracunan itu, terutama untuk pemulihan kondisi pelajar yang menjadi korban.
Hasil uji laboratorium masih ditunggu untuk memastikan penyebab pasti keluhan yang dialami 128 pelajar tersebut. Pemkot Pariaman belum memutuskan langkah lanjutan terhadap SPPG yang dinonaktifkan sampai hasil pemeriksaan keluar.