Petugas Jaga Lintasan Sebidang Tanpa Palang Pintu di Padang Andalkan Portal Manual

Penulis: Ridwan Azhari  •  Minggu, 20 September 2026 | 23:38:32 WIB
Petugas jaga lintasan menurunkan portal manual di perlintasan kereta api sebidang tanpa palang pintu di Padang, Sumatera Barat.

Petugas jaga lintasan (PJL) di Padang, Sumatera Barat, menutup portal secara manual di perlintasan kereta api sebidang yang tidak dilengkapi palang pintu. Penutupan dilakukan pada shift malam untuk memastikan keamanan pengendara dan warga yang melintas. Kondisi ini menunjukkan masih ada titik perlintasan di kota itu yang bergantung pada tenaga manusia, bukan sistem otomatis.

PADANG — Petugas jaga lintasan (PJL) di Padang, Sumatera Barat, menjalankan penutupan portal secara manual di perlintasan kereta api sebidang yang tidak memiliki palang pintu. Penutupan dilakukan saat shift malam, dengan petugas menurunkan portal sendiri untuk menghentikan laju kendaraan sebelum kereta melintas.

Perlintasan sebidang tanpa palang pintu menjadi titik rawan di kawasan perkotaan. Pengendara yang melintas harus mengandalkan isyarat petugas, bukan sistem mekanis atau elektrik yang bekerja otomatis.

Bagaimana Petugas Menjaga Perlintasan Tanpa Palang Otomatis

PJL yang bertugas shift malam menurunkan portal secara manual setiap kali kereta akan melintas. Portal itu menjadi satu-satunya penghalang fisik antara kendaraan dan jalur kereta.

Setelah kereta lewat, petugas kembali mengangkat portal dan membuka akses bagi pengendara. Prosedur itu diulang sepanjang shift, tanpa bantuan sensor atau palang otomatis.

Mengapa Perlintasan Sebidang Tanpa Palang Pintu Masih Ada

Perlintasan sebidang tanpa palang pintu umumnya berada di kawasan permukiman padat atau jalan lingkungan. Tidak semua titik dilengkapi palang otomatis karena keterbatasan anggaran dan status lahan.

Kondisi itu membuat peran PJL menjadi krusial. Tanpa petugas yang berjaga, pengendara berisiko menerobos jalur kereta karena tidak ada penghalang tetap.

Risiko yang Dihadapi Pengendara dan Warga

Perlintasan tanpa palang pintu meningkatkan risiko kecelakaan, terutama pada malam hari saat jarak pandang terbatas. Pengendara yang tidak melihat isyarat petugas bisa langsung melintas.

Warga yang tinggal di sekitar perlintasan juga terdampak. Mereka harus melewati jalur tersebut setiap hari, dengan keamanan yang bergantung pada kesigapan petugas jaga.

Penutupan Manual Jadi Andalan di Shift Malam

Pada shift malam, jumlah petugas biasanya lebih sedikit dibanding siang. Penutupan portal manual menjadi andalan karena tidak ada sistem otomatis yang bisa diandalkan.

Petugas menurunkan portal tepat sebelum kereta melintas, lalu menunggu hingga rangkaian kereta melewati perlintasan. Setelah aman, portal diangkat kembali.

Prosedur itu membutuhkan ketelitian dan kewaspadaan tinggi. Keterlambatan menurunkan portal bisa berakibat fatal bagi pengendara yang sedang melintas.

Reporter: Ridwan Azhari
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top