SUMATERA BARAT — Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU Bali memicu kemacetan yang mulai mengganggu jadwal perjalanan wisatawan. DPD ASITA Bali menyatakan belum ada pembatalan kunjungan, tetapi biro perjalanan terpaksa mengubah rute dan destinasi tamu yang sudah tiba. Perubahan itu dilakukan agar agenda liburan tetap berjalan meski akses darat melambat.
Ketua DPD ASITA Bali I Putu Winastra menyebut biro perjalanan kini menyesuaikan rencana tur dengan kondisi lalu lintas harian. Wisatawan yang sudah berada di Pulau Dewata diarahkan ke destinasi yang lebih dekat dan tidak terlalu padat, terutama dari kawasan Bali Selatan.
Penyesuaian menyasar rombongan yang memakai kendaraan kecil seperti mobil van. Kendaraan jenis itu paling terdampak saat antrean di sekitar SPBU memanjang ke badan jalan dan memakan waktu tempuh.
Menurut Winastra, pembatalan kunjungan sejauh ini nihil. "Sementara ini belum ada cancel, tetapi yang sudah di Bali, mereka mengubah kegiatannya yang tadinya di Bali Selatan, kita bawa ke tempat-tempat yang lebih sedikit crowded-nya," kata Winastra saat ditemui di Jimbaran, Kabupaten Badung, dikutip dari Antara, Sabtu (17/10/2026).
Contoh perubahan yang ia sebut adalah rombongan yang semula dijadwalkan ke Tanah Lot. Karena macet, tujuan dialihkan ke destinasi lain yang lebih dekat supaya agenda liburan tidak terpotong.
"Kegiatan sudah terjadwal karena ini kan tidak berpengaruh kepada pesawat ya, cuma ada di Bali saja. Perubahan tur ada yang tadinya ke Tanah Lot karena macet, dia berubah ke tempat yang lebih dekat dan sebagainya," ujarnya.
Biro perjalanan juga terbuka menjelaskan kondisi lalu lintas kepada wisatawan. Sejauh ini tamu memahami situasi, sehingga perubahan rencana tidak berujung pada pembatalan seluruh agenda.
Persoalan lalu lintas tetap menjadi perhatian. Antrean kendaraan di sekitar SPBU sempat membuat anggota ASITA sulit menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Kondisi itu dikhawatirkan membesar bila kemacetan berlangsung lama. Perjalanan darat yang terhambat bukan hanya mengacaukan jadwal tur, tetapi juga berisiko membuat wisatawan terlambat menuju bandara.
"Harapan kami adalah ruas jalan yang memang dipakai untuk berjalan ke tempat-tempat yang misalnya bandara, diberikan jalan yang lebih luas sehingga tidak sampai menimbulkan wisatawannya tidak bisa terbang," kata Winastra.
ASITA Bali berharap antrean BBM dan kemacetan segera ditangani. Winastra menilai dampak terhadap kunjungan sulit diperkirakan bila kondisi terus berlanjut.
Jika situasi memanjang dan memenuhi kriteria tertentu, asosiasi akan menjelaskan kepada mitra perjalanan di luar negeri bahwa kondisi berada di luar kendali pelaku usaha atau force majeure.
"Harapannya, hal ini jangan sampai terlalu lama agar kita juga bisa menyampaikan kepada partner di luar negeri bahwa situasi ini adalah force majeure," ujarnya.
Kelancaran akses dinilai sama pentingnya dengan daya tarik destinasi. Winastra menegaskan, destinasi sebagus apa pun tidak cukup bila wisatawan menghadapi kendala transportasi selama berada di Bali.
Bagi traveler yang merencanakan liburan dalam waktu dekat, informasi terkini soal antrean BBM dan kondisi jalan dapat dikonfirmasi via dinas pariwisata setempat atau biro perjalanan masing-masing.