SUMATERA BARAT — Pep Guardiola berdiri di depan terowongan pemain. Sorotan 10 tahun kariernya terputar di layar raksasa. Sang ayah, Valenti yang berusia 95 tahun, menyaksikan dari tribun. Tak lama, Pep Guardiola Stand — nama baru tribun yang diresmikan malam itu — menjadi saksi pidato perpisahan yang penuh haru.
Pidato Perpisahan yang Mengharu Biru: “It’s Been F***ing Fun”
“Saya sangat gugup. Kenapa kalian begitu mencintaiku?” ujar Guardiola saat diminta bicara. Ia meminta penonton diam sejenak. Ketika suporter meneriakkan “10 years more”, pelatih berusia 54 tahun itu hanya bisa tersenyum getir.
“Tidak pernah saya bayangkan cinta sebanyak ini. Ini kehormatan menjadi manajer kalian. Tribun itu kehormatan terbesar dari klub ini. Nama saya mewakili ayah dan ibu saya,” kata Guardiola di hadapan publik Etihad.
Ia menambahkan: “Para pemain belum tahu, tapi saya akan mengontrol mereka dari tribun. Di tahun-tahun mendatang, di mana pun kalian bertemu saya di jalan, peluklah. Saya akan membutuhkannya. Saya hanya bisa bilang: ‘It’s been f***ing fun’.”
Blunder Stones Berujung Gol, Villa Balas Dendam Kegagalan Eropa
Di lapangan, skenario berbeda terjadi. Aston Villa datang dengan misi mengulang sukses mereka di Liga Europa. Antoine Semenyo membuka keunggulan pada menit ke-23 lewat skema sepak pojok. Lamare Bogarde secara tak sengaja menyundul bola yang langsung disambar Semenyo di tiang jauh.
City menyamakan kedudukan di awal babak kedua. Namun, kegembiraan hanya bertahan hitungan detik. John Stones secara tidak sengaja menyundul bola sepak pojok Leon Bailey yang justru mengenai bokong Ollie Watkins. Striker Villa itu berputar cepat dan melepaskan tembakan kilat yang tak mampu dihalau kiper City.
Watkins lantas mengambil bola dan mengangkatnya ke atas kepala, menirukan selebrasi trofi Liga Europa Villa yang diraih tiga hari sebelumnya. Aksi itu disambut tawa dan sorak pendukung tamu.
Bernardo Silva Menangis, Guardiola: “Jika Ingin Menangis, Menangislah”
Bernardo Silva yang tampil sebagai starter harus ditarik keluar pada menit ke-63. Wajahnya basah oleh air mata saat meninggalkan lapangan. Rekan setim, staf pelatih, hingga pemain Villa memberikan hormat berbaris. “Saya tidak tahu kenapa itu terjadi,” kata Guardiola soal momen haru tersebut.
Silva, yang mengabdi sembilan tahun di City, menyebut Guardiola sebagai “ayah dalam sepak bola”. “Dia tidak pernah berhenti menciptakan hal baru, terus berevolusi, dan tidak membiarkan lawan beradaptasi. Saya yakin dia adalah manajer terbaik sepanjang masa,” ucap pemain asal Portugal itu.
Gol Foden Dianulir, City Gagal Beri Kemenangan Perpisahan
Phil Foden sempat mencetak gol penyeimbang di menit-menit akhir, namun dianulir karena offside. Guardiola yang sudah mengganti Mateo Kovacic dan Rayan Cherki tak mampu membalikkan keadaan. Kekalahan ini tak mengubah posisi City di papan atas, tetapi mengukir akhir yang pahit untuk era 10 tahun penuh trofi.
“Saya sudah memberikan segalanya,” tutup Guardiola singkat. Sorotan biru kembang api menerangi langit Manchester, mengiringi langkahnya meninggalkan lapangan untuk terakhir kalinya sebagai manajer City. Selanjutnya, pantai dan babak baru kehidupan menanti.