TANAH DATAR — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Nurul Hidayah di Jorong Gunung Bungsu saat ratusan jemaah mengikuti Salat Iduladha secara berjemaah. Pelaksanaan ibadah berlangsung seperti umat Islam pada umumnya, namun terdapat tradisi khusus yang membedakan jemaah Syattariyah dengan kelompok muslim lainnya.
Khutbah Bahasa Arab dan Naskah Warisan Ulama
Ciri khas utama dalam tradisi jemaah Syattariyah adalah penyampaian khutbah yang menggunakan bahasa Arab. Khotib juga membacakan naskah khutbah lama yang telah berusia puluhan tahun dan ditulis oleh para ulama terdahulu.
Imam Masjid Nurul Hidayah, Jonita Sofia Amri, menjelaskan bahwa penetapan Iduladha oleh jemaah Syattariyah tidak mengikuti metode hisab atau keputusan pemerintah. "Terjadinya keterlambatan hari raya seperti sekarang ini daripada pemerintah karena hadis nabi mengatakan puasa kamu adalah hari raya kamu di mana kamu berpuasa di bulan Ramadan di situlah kamu berhari raya di bulan haji," ujar Jonita.
Dasar Penetapan: Perhitungan Hari dari Awal Ramadan
Jonita menambahkan bahwa penentuan Iduladha didasarkan pada perhitungan hari menurut hadis Nabi yang telah diketahui sejak awal Ramadan. "Bulan zulhijah kami karena ditentukan di awal Ramadan. Jadi kalau kami puasa (Ramadan) di hari Jumat maka kami hari raya kami di bulan haji hari Jumat juga," jelasnya.
Metode ini menjadikan jemaah Syattariyah di Tanah Datar merayakan Iduladha pada hari yang sama dengan hari pertama mereka berpuasa Ramadan, yakni Jumat. Konsekuensinya, perayaan Iduladha mereka kerap berbeda jadwal dengan mayoritas umat Islam di Indonesia yang mengikuti keputusan pemerintah.
Fakta Singkat Jemaah Syattariyah di Tanah Datar:
- Lokasi: Masjid Nurul Hidayah, Jorong Gunung Bungsu, Nagari Batipuh Baruah, Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar
- Jumlah jemaah: Ratusan orang mengikuti Salat Iduladha secara berjemaah
- Khutbah: Menggunakan bahasa Arab dengan naskah warisan ulama puluhan tahun
- Dasar penetapan: Perhitungan hari berdasarkan hadis Nabi sejak awal Ramadan, bukan hisab atau keputusan pemerintah
Tradisi Berbeda dengan Keputusan Pemerintah
Perbedaan penetapan hari raya antara jemaah Syattariyah dengan pemerintah sudah menjadi fenomena tahunan di Sumatera Barat. Kelompok tarekat ini konsisten menggunakan metode rukyat dan perhitungan hari berdasarkan petunjuk hadis yang mereka yakini.
Di tengah perbedaan tersebut, pelaksanaan Salat Iduladha di Masjid Nurul Hidayah berlangsung tertib dan khidmat. Jemaah mengikuti rangkaian ibadah hingga selesai tanpa insiden, menunjukkan toleransi dan kedamaian dalam keberagaman cara penetapan hari raya di tengah masyarakat Minangkabau.