SUMATERA BARAT — Kemenangan tipis 1-0 atas PSG di Budapest pada Sabtu (31/5) malam seolah menjadi cermin kebiasaan baru Arsenal musim ini. Gol cepat Kai Havertz di awal laga justru membuat tim asuhan Mikel Arteta terperangkap dalam pola bermain defensif. Statistik menunjukkan dominasi luar biasa PSG dengan 75 persen penguasaan bola dan 885 operan, berbanding 285 operan milik Arsenal.
"Mereka tim terbaik di dunia," aku Arteta soal PSG seusai laga.
Kemenangan Tipis Jadi Ciri Khas, Bukan Lagi Insiden
Sepanjang musim, Arsenal memenangi 20 pertandingan di semua kompetisi dengan selisih satu gol. Catatan ini menjadi bukti kecenderungan Arteta bermain aman setelah unggul. Mantan bek Arsenal Matthew Upson menilai perubahan gaya bermain sudah terlihat sejak Januari.
"Kalau lihat performa Agustus hingga Desember, Arsenal berbeda. Mereka lebih menguasai bola, banyak segitiga kecil antara Saka, Odegaard, Rice. Tapi tekanan di paruh kedua musim membuat mereka kembali ke pola aman," kata Upson kepada BBC Sport.
Dominasi Set-Piece dan Kritik Kreativitas Open Play
Meski finis sebagai juara Premier League dengan keunggulan tujuh poin atas Manchester City, Arsenal kerap dikritik karena ketergantungan pada situasi bola mati. Dari total 71 gol di liga, The Gunners hanya mencetak lebih dari satu gol dalam dua dari 14 pertandingan terakhir mereka. Di Liga Champions, 22 dari 30 gol tercipta dari open play, tapi penguasaan bola minim di partai puncak menjadi alarm.
PSG gelandang Joao Neves bahkan menyindir, "Kami satu-satunya tim yang ingin bermain."
Arteta Beri Sinyal Perubahan di Bursa Transfer
Pelatih asal Spanyol itu sudah menghabiskan lebih dari 900 juta poundsterling sejak 2019 untuk membangun skuad. Kini setelah memecahkan blokade psikologis juara liga, Arteta memberi kode akan mencari "margin berbeda" musim depan.
"Kami harus lebih baik dan menemukan cara berbeda untuk mendapatkan hasil yang kami inginkan," ujarnya.
Kekalahan di final Carabao Cup dari Manchester City pada Maret lalu juga menunjukkan pola serupa: Arsenal hanya memiliki 38 persen penguasaan bola. Dua kegagalan di partai final musim ini menjadi bahan evaluasi yang tak bisa diabaikan. Pertanyaannya kini: apakah Arteta berani mempertaruhkan formula juara yang sudah terbukti demi tampil lebih dominan di Eropa?