PASAMAN BARAT — Angka kekerasan terhadap anak dan perempuan di Pasaman Barat, Sumatera Barat, mencapai 46 kasus selama tujuh bulan terakhir. Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) setempat mencatat total korban mencapai 65 orang, terdiri dari 12 perempuan dewasa, 24 anak laki-laki, dan 29 anak perempuan.
"Kasus ini cukup tinggi dan perlu penanganan yang cukup serius. Sosialisasi akan terus kita gencarkan," kata Kepala DPPKBP3A Pasaman Barat Armen di Simpang Empat, Rabu.
Rincian 46 Kasus: Kekerasan Fisik hingga Bullying
Berdasarkan data DPPKBP3A, kekerasan fisik dan psikis menjadi jenis kasus paling dominan dengan 15 korban laki-laki, 10 anak perempuan, dan delapan perempuan dewasa. Pelecehan seksual tercatat menimpa 12 anak perempuan dan dua perempuan dewasa.
Selain itu, terdapat eksploitasi seksual dan ekonomi yang dialami empat anak perempuan serta satu perempuan dewasa. Kasus penelantaran juga tercatat menimpa tiga anak laki-laki, dua anak perempuan, dan satu perempuan dewasa.
Dinas juga menangani empat anak laki-laki yang berhadapan dengan hukum serta kasus perundungan atau bullying terhadap satu anak laki-laki dan satu anak perempuan.
Pendampingan Korban dan Peran Keluarga
Armen menegaskan bahwa seluruh korban telah mendapatkan pendampingan dari dinas. Langkah ini dilakukan agar kondisi mental anak-anak tidak semakin memburuk pasca kejadian.
"Terhadap para korban itu telah kita lakukan pendampingan agar mental anak-anak tidak bertambah rusak," ujarnya.
Melibatkan Pengadilan Agama hingga Polres dalam Sosialisasi
Untuk menekan angka kasus, DPPKBP3A Pasaman Barat menggencarkan sosialisasi pencegahan dengan melibatkan berbagai instansi. Mereka adalah Pengadilan Agama Talu, Kantor Urusan Agama (KUA), Polres Pasaman Barat, dan Dinas Pendidikan.
Armen menekankan pentingnya penguatan peran keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama dalam pengasuhan anak. Menurutnya, upaya antisipasi harus dilakukan sejak dini karena kekerasan bisa terjadi kapan saja tanpa mengenal waktu.
Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk menekan angka kekerasan yang masih tinggi di wilayah tersebut. Pihaknya berharap keterlibatan berbagai lembaga dapat memperluas jangkauan edukasi hingga ke tingkat nagari dan jorong.