SUMATERA BARAT - Sejak 1932 hingga 2026, setidaknya lima tempat sarapan legendaris di Padang telah mencatatkan sejarah panjangnya dalam peta kuliner Minangkabau. Angka-angka tersebut bukan sekadar penanda waktu, melainkan bukti ketahanan cita rasa di tengah perubahan zaman.
Ketika kota mulai bergerak di pagi hari, aroma gulai, soto, kopi, dan ketupat sayur telah memenuhi sejumlah sudut jalan. Deretan tempat sarapan enak di Padang tidak hanya menawarkan makanan mengenyangkan, tetapi juga menghadirkan resep lama, suasana kedai yang khas, serta kebiasaan makan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Sarapan tradisional menjadi pilihan karena menunya relatif sederhana, tetapi mempunyai karakter rasa yang kuat. Hidangan seperti katupek, lontong pical, soto, bubur kampiun, hingga teh talua memperlihatkan kekayaan kuliner Minangkabau dalam bentuk yang akrab dengan rutinitas sehari-hari.
Beberapa tempat bahkan telah bertahan selama puluhan tahun. Usia panjang tersebut bukan sekadar angka, melainkan menjadi penanda bahwa cita rasa dan kebiasaan makan yang ditawarkan mampu melewati perubahan zaman. Salah satu contohnya adalah Warung Kopi Nan Yo yang telah beroperasi sejak 1932 dan masih menjadi bagian dari lanskap kuliner kawasan Pondok. RRI pada 2026 juga memasukkan Nan Yo dalam daftar tempat makan ikonik yang memperkuat identitas gastronomi Kota Padang.
Berikut lima pilihan sarapan legendaris yang menarik untuk dijelajahi.
1. Bofet Radjawali Juanda, Soto dengan Kaldu yang Kaya Rasa
Bofet Radjawali Juanda memiliki sejarah panjang dalam kuliner pagi Kota Padang. Sumber terbaru mencatat akar usaha Soto Rajawali telah ada sejak 1958, sementara bahan yang menjadi acuan artikel ini menyebut cabang Juanda mulai berkembang dari perjalanan usaha keluarga dan beroperasi di Jalan Ir. Juanda. Pada 2025, cabang baru dengan nama Bofet Yusuf Rajawali Juanda juga dibuka di kawasan Taman Melati.
Menu yang paling menarik perhatian adalah soto. Kuahnya dibuat tanpa santan sehingga terasa lebih ringan untuk disantap pada pagi hari. Karakter kaldu berasal dari tulang sapi, kemudian dipadukan dengan racikan bumbu yang menjadi ciri khas rumah makan tersebut. Pilihan menu tidak berhenti pada soto. Gado-gado, soto paru, sop buntut, sop daging, sop tulang, hingga kacang padi tersedia sebagai alternatif. Untuk minuman, es cendol dan air mata pengantin dapat menjadi pendamping setelah menyantap hidangan gurih.
Keistimewaan Radjawali terletak pada kemampuannya mempertahankan gaya sarapan klasik. Hidangan yang disajikan terasa seperti bagian dari tradisi kuliner kota, bukan sekadar menu yang dibuat mengikuti tren. Dengan jam makan pagi yang relatif panjang, tempat ini cocok untuk sarapan sebelum melanjutkan aktivitas di pusat kota.
2. Katupek Pitalah Purus 3, Sarapan Khas Minangkabau
Katupek Pitalah Purus 3 menjadi salah satu pilihan menarik untuk mencicipi sarapan khas Minangkabau. Lokasinya berada di Jalan Purus III No. 24, Kota Padang, dan saat ini tercatat beroperasi setiap hari mulai sekitar pukul 06.00 hingga 11.00. Waktu kunjungan perlu diperhatikan karena jam operasional lebih banyak berada pada pagi hingga menjelang siang.
Menu utamanya adalah katupek Pitalah, berupa potongan ketupat yang disiram gulai dengan isian seperti nangka muda dan rebung. Kerupuk merah menjadi pelengkap yang memberikan tekstur renyah di antara kuah gurih dan ketupat yang lembut. Katupek Pitalah memiliki karakter berbeda dari ketupat sayur yang umum ditemukan di daerah lain. Penggunaan gulai dan sayuran khas Minangkabau membuat rasanya lebih kaya rempah. Hidangan tersebut juga memperlihatkan pengaruh kuliner dari kawasan Pitalah yang kemudian dikenal luas di Padang.
Selain katupek, pilihan makanan di sini cukup beragam. Lontong pical, bubur kampiun, nasi goreng, lupis, gorengan, dan teh talua dapat dipilih sesuai selera. Informasi terkini dari berbagai sumber juga menunjukkan tempat ini tetap ramai pada jam sarapan, dengan sejumlah ulasan menyoroti katupek, bubur kampiun, dan teh talua sebagai pilihan populer. Datang lebih awal juga menjadi pilihan masuk akal karena tempat sarapan seperti ini umumnya paling ramai pada jam makan pagi.
3. Soto Garuda, Legenda Sarapan Sejak 1976
Soto Garuda termasuk salah satu nama yang kuat dalam sejarah kuliner pagi Padang. Berdasarkan bahan yang dihimpun, usaha ini telah berdiri sejak 1976 dan memiliki beberapa cabang, dengan lokasi di Jalan S. Parman dan Jalan Pattimura menjadi yang paling dikenal.
Soto Padang memiliki karakter yang berbeda dari soto di berbagai daerah lain. Kuahnya cenderung bening dengan aroma rempah yang kuat. Potongan daging sapi biasanya digoreng terlebih dahulu sehingga memberikan tekstur renyah sebelum bercampur dengan kuah. Sajian kemudian dilengkapi nasi, perkedel, bawang goreng, serta pilihan lauk tambahan. Emping, kerupuk kulit, dan sambal hijau dapat digunakan untuk memperkaya tekstur serta rasa. Bagi pencinta hidangan berkuah, kombinasi kaldu berbumbu dengan daging yang gurih membuat soto terasa pas untuk memulai aktivitas.
Popularitas Soto Garuda juga tidak hanya berdasarkan cerita lama. Pemerintah Kota Padang mencatat Bofet Garuda sebagai salah satu tempat makan legendaris di kawasan Pasar Raya yang masih bertahan dan menjadi bagian dari identitas kuliner kota. Keunggulan lainnya adalah fleksibilitas. Porsi soto dapat dinikmati sebagai sarapan yang cukup mengenyangkan tanpa terasa terlalu berat. Setelah itu, aktivitas menjelajahi kawasan kota dapat dilanjutkan tanpa rasa terlalu penuh.
4. Lontong Gulai Ajo Ponggo, Sarapan Hangat di Kawasan Purus
Ajo Ponggo berada di kawasan Jalan Purus III, Veteran, yang memang dikenal memiliki sejumlah tempat sarapan tradisional. Sumber lokal menyebut Ajo Ponggo telah hadir sejak sekitar 1995 dan tetap mempertahankan menu sarapan tradisional. Tempat ini juga disebut beroperasi pada pagi hingga menjelang siang dan menjadi salah satu pilihan sarapan di kawasan Pantai Padang.
Tempat ini menawarkan pilihan makanan yang cukup beragam, mulai dari lontong gulai, lontong pical, bubur kampiun, lupis, hingga kacang padi. Salah satu menu yang banyak dicari adalah sup daging dan sup tulang iga. Sajian berkuah hangat seperti ini cocok disantap pada pagi hari, terutama ketika ingin menikmati makanan dengan rasa gurih dan rempah yang kuat. Lontong gulai juga menjadi pilihan yang menarik. Ketupat atau lontong dipadukan dengan kuah gulai sehingga menghasilkan tekstur lembut dengan rasa gurih. Sementara itu, lontong pical menghadirkan karakter bumbu kacang yang lebih dominan.
Keberadaan Ajo Ponggo di kawasan Purus membuatnya menarik untuk dipadukan dengan aktivitas pagi lainnya. Setelah sarapan, perjalanan dapat dilanjutkan menuju kawasan pantai atau tempat lain di sekitar pusat Kota Padang. Bagi pencinta makanan tradisional, keberagaman menu menjadi daya tarik tersendiri. Satu meja dapat diisi makanan dengan karakter berbeda, sehingga sarapan terasa seperti kesempatan untuk mengenal lebih banyak jenis hidangan Minang.
5. Warung Kopi Nan Yo, Sarapan dalam Suasana Tempo Dulu
Warung Kopi Nan Yo menjadi salah satu tempat paling menarik untuk menutup daftar sarapan legendaris di Padang. Kedai yang berada di Jalan Niaga No. 205, kawasan Pondok, ini telah berdiri sejak 1932. ANTARA pada Juni 2026 masih mencatat Nan Yo sebagai salah satu warung kopi legendaris dan tertua di Padang. Menurut laporan Padang Ekspres, Nan Yo didirikan oleh Tan Tek Tjiauw dan kini telah dikelola generasi ketiga keluarga.
Usia lebih dari sembilan dekade membuat Nan Yo mempunyai nilai sejarah yang berbeda. Suasana kedai yang mempertahankan nuansa klasik menjadi bagian dari pengalaman. Perabotan dan atmosfer lama memberikan kesan bahwa sarapan di sini bukan sekadar aktivitas makan, tetapi juga perjalanan singkat menyusuri sejarah kota.
Kopi menjadi sajian utama. Racikannya memiliki karakter tradisional, sementara kopi susu menjadi salah satu pilihan yang populer. Menariknya, Nan Yo tidak hanya dikenal sebagai tempat minum kopi. Berbagai makanan seperti bakmi, bihun, nasi goreng, sate Padang, dan kue basah dapat menjadi pendamping. Keberlangsungan usaha lintas generasi tersebut menjadi salah satu alasan kuat mengapa kedai ini memiliki posisi penting dalam sejarah kuliner Kota Padang. Jam operasionalnya juga memungkinkan sarapan berlangsung lebih santai. Berbeda dari tempat yang hanya buka beberapa jam pada pagi hari, Nan Yo dapat menjadi pilihan untuk sarapan sekaligus menikmati kopi hingga siang.
Mengapa Sarapan Tradisional Padang Layak Dicoba?
Sarapan di Padang menawarkan pengalaman yang berbeda dari sekadar mencari makanan cepat sebelum memulai aktivitas. Menu yang tersedia memiliki hubungan erat dengan tradisi kuliner Minangkabau.
Katupek Pitalah memperlihatkan bagaimana ketupat dapat menjadi hidangan utama dengan kuah gulai dan sayuran. Soto Garuda menunjukkan bentuk lain dari kuliner Padang melalui kuah bening yang kaya rempah. Ajo Ponggo menghadirkan beragam menu tradisional dalam satu tempat, sedangkan Radjawali mempertahankan tradisi soto dan sup sebagai menu pagi.
Nan Yo menawarkan pengalaman yang berbeda lagi. Kopi dan makanan sederhana berpadu dengan atmosfer kedai tua yang telah melewati banyak perubahan zaman. Nilai historis tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pencinta kuliner. Keragaman ini juga memperlihatkan bahwa kuliner Minangkabau tidak hanya identik dengan rendang atau nasi dengan lauk bersantan. Sarapan membuka sisi lain dari tradisi makan masyarakat, mulai dari makanan berbasis ketupat, olahan kuah, bubur, hingga budaya minum kopi.
Tips Menikmati Sarapan Legendaris di Padang
Sebagian besar tempat sarapan tradisional memiliki jam operasional yang dimulai cukup pagi. Karena itu, waktu terbaik untuk datang umumnya berada pada rentang pukul 06.00 hingga 09.00. Beberapa tempat, seperti Katupek Pitalah Purus 3, bahkan memiliki waktu operasional yang relatif singkat sampai sekitar pukul 11.00. Perlu diperhatikan pula bahwa jam buka dapat berubah. Informasi dari sumber terbaru sebaiknya dijadikan acuan sebelum berangkat, terutama untuk kedai yang sudah lama berdiri dan memiliki jam operasional khusus.
Sarapan juga dapat dilakukan dengan berbagi beberapa menu apabila datang bersama rombongan. Cara ini memungkinkan lebih banyak jenis makanan dicicipi tanpa harus memesan porsi penuh untuk setiap hidangan. Selain itu, jangan lewatkan minuman khas seperti teh talua atau kopi susu tradisional. Minuman tersebut menjadi bagian penting dari budaya sarapan dan memberikan pengalaman berbeda dibandingkan minuman modern.
Pada akhirnya, tempat sarapan enak di Padang bukan sekadar tujuan untuk mengisi perut, tetapi juga pintu masuk untuk mengenal rasa dan sejarah kuliner Minangkabau.