SUMATERA BARAT — Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan menguji rentang 6.550-6.600 hari ini. Tekanan jual masih membayangi pasar modal Indonesia setelah pada sesi sebelumnya investor asing melepas sejumlah saham besar.
"Prakiraannya IHSG akan bergerak sideways cenderung melemah. IHSG akan menguji level 6.550-6.600 pada perdagangan hari ini," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas, Selasa (8/9).
Saham Sektor Kesehatan Justru Menguat di Tengah Tekanan
Di tengah pelemahan indeks, sektor kesehatan mencatat kinerja positif dengan kenaikan 0,82% pada perdagangan Senin. Tim Phintraco mengaitkan penguatan ini dengan imbauan penggunaan masker menyusul paparan abu vulkanik erupsi Anak Krakatau.
"Penopangnya adalah imbauan untuk memakai masker akibat paparan abu vulkanik dari erupsi Anak Krakatau. Adanya himbauan ini menjadi faktor positif bagi saham sektor kesehatan," ujar Tim Phintraco.
Sementara itu, saham-saham yang paling banyak dilepas investor asing pada Senin kemarin antara lain TPIA, CUAN, ISAT, KLBF, dan BMRI.
Cadangan Devisa Sentuh Level Tertinggi Sejak Maret 2026
Dari sisi fundamental makro, pasar mencermati data cadangan devisa Indonesia yang tercatat sebesar USD 146,5 miliar pada Agustus 2026. Angka ini meningkat dibandingkan posisi Juli yang sebesar USD 145,3 miliar dan menjadi level tertinggi sejak Maret 2026.
Kenaikan cadangan devisa ditopang oleh peningkatan penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan utang luar negeri pemerintah. Tim Phintraco menilai posisi ini cukup kuat untuk mengantisipasi berbagai kebutuhan devisa.
"Posisi cadangan devisa dapat mengimbangi pembayaran utang luar negeri dan intervensi BI untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah," ucap Tim Phintraco.
Ruang Fiskal Terbatas, Tambahan Belanja K/L Hanya Rp 9,1 Triliun
Pelaku pasar juga mengamati dinamika penyusunan RAPBN 2027. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, permintaan tambahan anggaran dari kementerian/lembaga mencapai Rp 1.000 triliun untuk tahun depan.
Namun, pemerintah tidak dapat memenuhi seluruh permintaan tersebut karena keterbatasan ruang fiskal. Dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR Senin kemarin, disepakati tambahan belanja K/L hanya Rp 9,1 triliun.
"Pemerintah perlu melakukan efisiensi anggaran. Sehingga defisit anggaran tidak melebihi yang sudah ditetapkan," ujar Tim Phintraco.
Keputusan ini menjadi sinyal hati-hati bagi pasar terhadap arah belanja pemerintah ke depan, terutama di tengah tekanan nilai tukar dan dinamika ekonomi global yang masih berlanjut.