SUMATERA BARAT — Direktur Eksekutif Asosiasi Tenis Filipina (Philta), Tonette Mendoza, menegaskan pihaknya sudah bersurat ke WTA agar Eala tidak dijatuhi sanksi. Namun hingga Selasa (15/9), belum ada respons dari badan tenis putri dunia tersebut.
Eala berada di posisi sulit karena China Open 2026 berlangsung bersamaan dengan Asian Games. Turnamen level 1000 itu masuk kategori wajib, sehingga absen berpotensi memicu denda sesuai aturan WTA.
Philta Kirim Surat, WTA Belum Jawab
"Alex pasti akan bermain di Asian Games terlepas dari keputusan WTA," kata Mendoza dalam siaran pers resmi federasi, dilansir dari Enquirer.
Mendoza menambahkan WTA memiliki aturan sendiri dan pelanggaran terhadapnya berujung sanksi. Meski begitu, Philta memilih jalan tetap menurunkan Eala di ajang yang dibela untuk bendera dan negara.
"WTA punya aturannya sendiri dan melanggar aturan akan dikenakan sanksi, tapi Alex akan berada di Nagoya, untuk bendera dan negara," ujarnya.
Janice Tjen Pilih Mundur, Pelti Siap Bayar Denda
Keputusan Eala berkebalikan dengan petenis putri Indonesia Janice Tjen. Janice memutuskan mundur dari Asian Games 2026 lewat pengumuman di media sosial pribadinya, dengan pertimbangan utama keberlangsungan karier profesional.
Sekretaris Jenderal Pelti, Andi Fajar, menyebut absennya Janice merupakan bagian dari strategi menjaga peringkat dunia. Poin yang tergerus berisiko menutup peluang tampil di Australian Open 2027.
"Ini bagian dari program supaya Janice itu tetap bisa masuk ke Melbourne Australian Open. Dia harus menjaga poinnya sekarang," kata Andi dilansir dari Antara.
Pelti bahkan menyatakan kesediaan menanggung denda WTA agar Janice tetap bisa tampil. Namun ancaman kehilangan poin dinilai lebih besar dampaknya bagi peringkat atlet.
"Kami juga mau bayar. Pelti siap bayar. Kami sudah sampaikan ke WTA, kami akan membayar denda, tapi tidak ada hubungannya dengan zero point itu," ujar Andi.
Dua Atlet, Dua Jalan Berbeda
Mendoza menilai setiap atlet dan negara punya pertimbangan masing-masing. Ia mengaku tidak mengetahui situasi Janice secara detail dan hanya memahami bahwa Eala bersedia membela Filipina.
Perbedaan sikap ini menyoroti benturan jadwal antara turnamen wajib WTA dan Asian Games 2026. Denda US$10 ribu atau setara Rp176 juta menjadi taruhan yang harus dihadapi atlet maupun federasi.
Bagi Eala, tampil di Nagoya demi Filipina sudah menjadi pilihan final. Bagi Janice, menjaga posisi peringkat demi Australian Open 2027 jadi prioritas.