PADANG — Musyawarah daerah DPD Satupena Sumbar itu dihadiri Gubernur Sumbar yang diwakili Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Jumaidi, Kapolda Sumbar yang diwakili Wadir Bimbingan Masyarakat Polda Sumbar, Asisten II, serta ketua DPD Satupena se-Sumatera dan sejumlah undangan lain.
Ketua DPD Satupena Sumbar Sastri Bakry menyampaikan laporan kepemimpinannya selama satu periode. Menurut dia, organisasi yang dipimpinnya telah menjalankan sejumlah kegiatan, mulai dari diskusi, seminar, hingga bedah buku.
"SatuPena Sumbar sudah banyak melahirkan karya-karya," kata Sastri saat membuka musda.
Sepuluh Calon Bersaing di Musda Satupena Sumbar
Sekretaris DPD Satupena Sumbar Armaidi Tanjung menyebut ada sepuluh calon yang masuk dalam proses musyawarah daerah. Ia berharap seluruh tahapan berjalan lancar hingga kepengurusan baru terbentuk.
"Saya berharap kegiatan berjalan dengan lancar," ujar Armaidi.
Selain agenda pemilihan, musda di aula Kantor Gubernur itu juga diisi pembagian door prize berupa buku kepada sepuluh peserta. Acara ditutup dengan foto bersama seluruh peserta dan tamu undangan.
Kontribusi Satupena ke Indeks Gemar Membaca Sumbar
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Sumbar Jumaidi menilai Satupena Sumbar memberi kontribusi besar bagi daerah. Tulisan yang dihasilkan organisasi itu, menurut dia, ikut mengangkat capaian Sumbar pada sejumlah indikator literasi.
"Tulisan yang dihasilkan SatuPena mengantarkan Sumbar pada indikator indek masyarakat. Selain itu mengantarkan posisi Sumbar gemar membaca dan mengantarkan Sumbar kekancah internasional," kata Jumaidi.
Jumaidi menyebut buku-buku terbitan Satupena Sumbar memiliki kualitas yang baik. Lewat organisasi tersebut, ia berharap motivasi menulis generasi muda Sumbar ikut tumbuh.
"Melalui SatuPena Sumbar, kita bangkitkan motivasi generasi muda," ujarnya.
Pesan Sastri Bakry soal Menulis dan Membaca
Dalam sambutannya, Sastri Bakry mengingatkan peserta musda tentang pentingnya menulis selama masih diberi kesempatan. Menurut dia, tulisan akan dikenang meski penulisnya sudah tiada.
"Menulislah selagi kita masih diberi kesempatan, karena tulisan itu dikenang sampai kapan pun walau sudah tiada," kata Sastri.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara membaca, menulis, dan mengolah gagasan. "Membaca menulis hingga mengolah," imbuhnya.