SUMATERA BARAT — Kabar ini menjadi angin segar di tengah maraknya isu perubahan iklim. Lewat berbagai program dekarbonisasi, SIG tak hanya mengurangi jejak karbon, tetapi juga membuktikan bahwa bisnis semen bisa berjalan seiring dengan kelestarian lingkungan.
Apresiasi tersebut diberikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, kepada Pgs Group Head of Strategic Growth & ESG SIG, Muhammad Taqiyuddin, di Jakarta. SIG dinilai unggul dalam kategori Sector Capital Market, Listed Company.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menegaskan bahwa prinsip ESG adalah fondasi operasional perseroan. "Penerapan prinsip ESG merupakan landasan bagi SIG dalam menjalankan operasional bisnis. Komitmen ini didasari oleh kesadaran bahwa ESG bukan sekadar memenuhi kewajiban regulasi, tetapi merupakan competitive advantage untuk kesuksesan perusahaan di masa depan," ujarnya, Jumat (14/8/2026).
Salah satu jurus utama SIG adalah pengembangan semen hijau. Produk ini diklaim memiliki emisi karbon hingga 38 persen lebih rendah dibandingkan semen konvensional, namun kualitasnya tetap sesuai standar peruntukan.
Untuk mencapai target tersebut, SIG gencar melakukan dekarbonisasi proses produksi. Salah satunya dengan meningkatkan pemakaian bahan bakar alternatif yang berasal dari limbah industri, biomassa, hingga sampah kota yang diolah menjadi refuse-derived fuel (RDF).
Sepanjang 2025, pemanfaatan bahan bakar alternatif ini melonjak 24 persen menjadi 681 ribu ton. Angka tersebut setara dengan pengurangan konsumsi batu bara hingga 467 ribu ton sekaligus mendorong thermal substitution rate (TSR) mencapai 9,77 persen.
Di sisi energi, SIG juga memasang panel surya di sejumlah unit operasional dan memanfaatkan teknologi Waste-Heat Recovery Power Generation (WHRPG). Teknologi ini mengonversi panas buang dari proses produksi menjadi sumber listrik, sehingga mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Berkat berbagai upaya tersebut, SIG berhasil menurunkan intensitas emisi gas rumah kaca (GRK) Scope 1 sebesar 21 persen dibandingkan baseline 2010. Adapun emisi Scope 2 turun 15 persen dibandingkan baseline 2019.
Capaian ini menempatkan SIG di posisi terdepan dalam transisi energi di sektor industri semen nasional. Dengan terus berinovasi, SIG tak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga membangun masa depan yang lebih hijau bagi Indonesia.