PADANG — Kolaborasi tiga lembaga ini menyasar pesantren sebagai agen perubahan pengelolaan sampah. Kepala DLH Provinsi Sumatera Barat Tasliatul Fuaddi yang membuka kegiatan, mengapresiasi kerja sama yang terbangun antara PT Semen Padang, DLH Provinsi Sumbar, dan FMIPA Unand.
"Upaya pengelolaan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen, termasuk perguruan tinggi, dunia industri, dan masyarakat," kata Tasliatul Fuaddi dalam sambutannya.
Peserta mendapat pelatihan langsung, mulai dari pengenalan media budidaya, pengelolaan limbah organik, hingga teknik pemeliharaan larva agar menghasilkan manfaat optimal. Antusiasme terlihat tinggi saat demonstrasi pengolahan sampah organik menjadi media pakan maggot.
Mengapa Maggot BSF Dipilih sebagai Solusi Sampah Organik?
Wakil Dekan FMIPA Universitas Andalas Admi Nazra menjelaskan, persoalan sampah organik butuh pendekatan ilmiah dan partisipatif. "Karena itu, edukasi mengenai budidaya maggot BSF dinilai menjadi salah satu solusi yang relevan untuk diterapkan di tengah masyarakat, termasuk di lingkungan pesantren," ujarnya.
Larva lalat Black Soldier Fly (BSF) dikenal mampu mengurai sampah organik dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Hasil budidaya berupa maggot kaya protein dan bisa dimanfaatkan sebagai pakan alternatif untuk peternakan, seperti ayam dan ikan.
Potensi Ekonomi dari Tumpukan Sampah
Peserta tidak hanya belajar soal lingkungan. Mereka juga mendapat pemahaman mengenai potensi ekonomi dari budidaya maggot. Dengan pengelolaan tepat, kegiatan ini dinilai mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Hasil panen maggot bisa dijual sebagai pakan ternak, sementara residu proses budidaya bisa diolah menjadi pupuk organik untuk pertanian. Ini menjadi siklus ekonomi yang berkelanjutan dari limbah rumah tangga pesantren.
Melalui kolaborasi ini, PT Semen Padang, FMIPA Unand, dan DLH Sumbar berharap lahir agen-agen perubahan di tengah masyarakat yang tidak hanya paham pentingnya pengelolaan sampah, tetapi juga mampu menerapkannya secara mandiri.
Kegiatan ini digelar bertepatan dengan momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tasliatul menambahkan, isu lingkungan harus menjadi perhatian bersama antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha.