SUMATERA BARAT — Pernyataan itu disampaikan Qodari dalam konferensi pers PT Danantara Sumberdaya Indonesia di Jakarta, Minggu (31/5/2026). Menurutnya, kemampuan membangun relasi dengan berbagai kekuatan global yang kerap memiliki kepentingan berbeda merupakan keunikan tersendiri yang dimiliki Presiden Prabowo.
Satu-Satunya Figur yang Dekat dengan Semua Kekuatan Adidaya
Qodari menyebut Prabowo sebagai figur yang unik, bahkan mungkin satu-satunya pemimpin di dunia yang mampu menjalin hubungan sangat baik dengan kekuatan-kekuatan besar adidaya secara bersamaan. Ia mencontohkan kedekatan Prabowo dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan Presiden China Xi Jinping.
"Kita semua mengetahui bahwa ada hubungan personal yang sangat kuat antara kedua kepala negara, dan kita tahu bahwa modal sosial itu tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan modal-modal yang lain," ujar Qodari.
Kunjungan ke Prancis, Kerja Sama Tak Hanya Alutsista
Di luar aspek diplomasi personal, kunjungan Prabowo ke Prancis juga diarahkan untuk memperluas kerja sama di bidang pertahanan, pendidikan, energi, dan pengelolaan mineral kritis. Di sektor pertahanan, pemerintah tidak hanya fokus pada pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga mendorong transfer teknologi.
Tujuannya, Indonesia dapat meningkatkan kemampuan penguasaan teknologi pertahanan nasional secara mandiri. Sementara di bidang pendidikan, penguatan kerja sama sektor STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi prioritas untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Modal Diplomasi di Tengah Dinamika Global
Qodari menambahkan, modal diplomasi yang dimiliki Prabowo akan memberikan manfaat bagi Indonesia dalam menghadapi dinamika global saat ini maupun di masa mendatang. Dengan relasi yang terbangun, Indonesia dinilai memiliki posisi tawar yang lebih kuat di forum-forum internasional.
Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa pendekatan personal kepala negara diyakini mampu membuka pintu kerja sama yang lebih substansial, terutama di tengah persaingan geopolitik yang semakin ketat antara negara-negara besar.