SUMATERA BARAT — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan proyek strategis nasional (PSN) di sektor hulu migas itu akan dimulai besok. "Besok iya besok (groundbreaking Blok Masela). Insya Allah Presiden akan meresmikan groundbreaking Blok Masela," kata Bahlil di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (14/7/2026).
Bahlil belum memastikan apakah Prabowo akan hadir langsung di Kepulauan Tanimbar, Maluku, atau meresmikan secara virtual. "Nanti kita lihat ya. Nanti diputuskan Bapak Presiden sendiri," ujarnya.
Nilai Investasi dan Target Produksi
Lapangan Abadi Blok Masela di Laut Arafura diperkirakan menyimpan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas bumi. Dengan nilai investasi US$ 20,9 miliar atau setara Rp 355 triliun, proyek ini menjadi salah satu lapangan gas laut dalam terbesar di Indonesia.
Pemerintah menargetkan produksi perdana (on-stream) bisa dimulai pada 2029 hingga 2030. Bahlil sebelumnya mendesak operator Inpex Masela Ltd agar segera memulai produksi setelah menemukan 301 sumur konsesi yang sudah memiliki rencana pengembangan (PoD) tetapi tidak kunjung masuk tahap produksi, termasuk Blok Masela. Proyek ini ditargetkan memasuki tahap konstruksi pada 2027.
Perjalanan Panjang Proyek Sejak 1998
Kontrak bagi hasil (PSC) Blok Masela pertama kali diteken pemerintah Indonesia dengan Inpex Corporation pada 16 November 1998. Dua tahun kemudian, pada 2000, Inpex menemukan cadangan gas raksasa di Lapangan Abadi. Sejak saat itu, proyek ini berkali-kali mengalami penundaan akibat berbagai persoalan, mulai dari skema pengembangan hingga negosiasi harga gas.
Baru pada 2026, setelah bertahun-tahun menjadi proyek strategis yang mandek, pemerintah memastikan eksekusi fisik dimulai. Bahlil mengaku telah mendesak Inpex agar tender segera dilakukan dan konstruksi tidak lagi tertunda.
Dampak bagi Pasokan Energi Nasional
Blok Masela diharapkan menjadi tulang punggung pasokan gas bumi untuk kebutuhan domestik dan industri. Dengan cadangan mencapai hampir 7 TCF, lapangan ini berpotensi memasok kebutuhan listrik, pupuk, dan industri petrokimia dalam jangka panjang.
Pemerintah juga mendorong penggunaan gas dalam negeri untuk menekan impor liquefied petroleum gas (LPG) dan mengurangi subsidi energi. Namun, tantangan distribusi dan pembangunan infrastruktur pipa dari Maluku ke pusat industri masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Groundbreaking besok menjadi sinyal bahwa pemerintahan Prabowo serius mengeksekusi proyek-proyek energi yang sebelumnya mandek. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah target produksi 2029 bisa terealisasi tanpa hambatan teknis dan pendanaan. Inpex selaku operator kini harus membuktikan komitmennya setelah dua dekade proyek ini hanya di atas kertas.