SUMATERA BARAT — Kebakaran yang melanda permukiman padat penduduk di Kebon Kosong pekan lalu memaksa ratusan warga kehilangan tempat tinggal. Hingga hari ini, mereka masih menghuni tenda darurat yang didirikan di lahan kosong tak jauh dari lokasi musibah.
Belum Ada Kepastian Relokasi
Koordinator pengungsian, Ahmad Rizal, mengatakan warga sangat bergantung pada bantuan dari pemerintah kota dan donatur. "Kami masih menunggu arahan dari kelurahan apakah akan direlokasi ke rumah susun atau tetap di sini dengan tenda yang lebih layak," ujarnya, Selasa (2/6).
Menurut Rizal, kebutuhan mendesak saat ini adalah air bersih, makanan siap saji, dan perlengkapan bayi. Beberapa warga, lanjut dia, mulai mengalami gangguan kesehatan akibat kelelahan dan paparan debu.
Pasokan Logistik Mulai Menipis
Bantuan dari masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat mengalir deras di hari-hari pertama pasca-kebakaran. Namun, memasuki pekan kedua, pasokan mulai menipis. "Alhamdulillah, sempat banyak. Sekarang tinggal sedikit, terutama untuk susu dan popok," kata seorang relawan di lokasi.
Pemerintah Kota Jakarta Pusat, melalui Suku Dinas Sosial, telah mendistribusikan bantuan berupa makanan dan selimut. Namun, warga mengaku belum mendapat informasi soal jadwal pembangunan hunian sementara (huntara) atau relokasi ke rumah susun.
Warga Berharap Hunian Tetap
Sebagian besar korban adalah warga dengan ekonomi menengah ke bawah yang tinggal di rumah kontrakan atau milik sendiri tanpa asuransi. Mereka berharap pemerintah tidak hanya memberikan bantuan darurat, tetapi juga solusi jangka panjang.
"Kami tidak ingin berlama-lama di tenda. Anak-anak sudah mulai rewel, cuaca juga tidak menentu. Tolong ada kepastian," ujar Siti, salah satu korban yang kehilangan seluruh harta bendanya.
Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Pusat belum memberikan pernyataan resmi mengenai rencana tindak lanjut. Namun, sumber di kelurahan menyebutkan bahwa pendataan ulang korban masih berlangsung untuk menentukan hak atas bantuan dan relokasi.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Kebakaran di Kebon Kosong tidak hanya menghanguskan tempat tinggal, tetapi juga mata pencaharian. Banyak warga yang bekerja sebagai pedagang kaki lima, buruh harian, atau pemulung kehilangan alat kerja dan modal usaha.
Sejumlah lembaga swadaya masyarakat mulai membuka posko pengaduan dan pendampingan psikologis bagi anak-anak korban kebakaran. "Trauma pada anak cukup berat. Kami akan dampingi selama masa pengungsian," kata perwakilan Yayasan Peduli Anak Jakarta.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa dalam musibah tersebut. Kerugian materi diperkirakan mencapai miliaran rupiah, namun angka pastinya masih dalam pendataan.